Media Kampung – 30 Maret 2026 | Dea Annisa, aktris berusia tiga puluh tahun, menanggapi spekulasi publik mengenai status pernikahannya.

Ia menegaskan bahwa keputusan untuk belum menikah tidak dipengaruhi oleh tuntutan menjadi penopang keuangan keluarga besar.

Dea menjelaskan bahwa pilihan hidup sederhana merupakan hasil refleksi pribadi, bukan akibat ketidakmampuan finansial.

Sejak menembus dunia hiburan sebelum usia dua tahun, kariernya telah mengalami naik turun, namun ia tetap konsisten pada gaya hidup yang tidak berlebihan.

Dalam wawancara bersama Melaney Ricardo, Dea mengungkap kekhawatirannya bahwa popularitas dapat menghilang sewaktu‑waktu.

Oleh karena itu, ia berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kebutuhan pribadi.

“Rezeki bisa datang dan pergi, jadi saya lebih memilih hidup cukup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa rasa syukur atas apa yang dimiliki lebih penting daripada mengejar materi.

Dea menolak stereotip bahwa perempuan harus menikah untuk menstabilkan keuangan keluarga.

Menurutnya, keputusan pribadi tidak seharusnya dinilai oleh standar sosial yang sempit.

Ia menegaskan bahwa orangtuanya, meski mengalami perceraian dan kehilangan ayah, tidak sepenuhnya bergantung pada pendapatannya.

Ibu dan saudara‑saudaranya masing‑masing memiliki pekerjaan dan penghasilan yang mandiri.

“Saya hanya melakukan bakti sebagai anak, bukan menanggung seluruh beban,” jelas Dea.

Ia menekankan bahwa kontribusi terbaiknya untuk keluarga adalah memberi dukungan moral, bukan semata‑mata materi.

Dea menolak label “ibu rumah tangga” yang sering dipaksakan pada wanita yang belum menikah.

Ia menilai bahwa peran perempuan dapat bersifat fleksibel dan tidak terikat pada satu definisi.

Selain karier akting, Dea terlibat dalam beberapa proyek film yang masih berjalan hingga kini.

Kesibukannya tidak menghalangi ia untuk tetap mengatur keuangan secara sederhana.

Dalam kondisi ekonomi nasional yang tidak pasti, ia mengingatkan pentingnya tidak memaksakan diri demi penampilan.

“Jangan memberi makan mata orang lain, cukupkan diri dengan apa yang ada,” nasihatnya.

Dea juga menolak asumsi bahwa ia menunda pernikahan demi menanggung biaya hidup orang lain.

Ia menilai bahwa keputusan untuk belum menikah lebih dipengaruhi oleh prioritas karier dan pertumbuhan pribadi.

Meski banyak pihak menganggap pernikahan sebagai solusi finansial, Dea menegaskan bahwa kebahagiaan tidak otomatis datang dari status perkawinan.

Ia menyebutkan pentingnya memiliki rasa cukup dan tidak terombang‑ambing oleh ekspektasi luar.

Pengalaman masa kecilnya yang singkat di dunia hiburan memberi pelajaran tentang ketidakstabilan industri.

Hal itu membuatnya lebih berhati‑hati dalam mengelola sumber daya.

Dea juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para penggemar yang terus mendukungnya.

Ia berharap publik dapat memahami niatnya tanpa menambahkan narasi yang tidak berdasar.

Dengan menolak label “tulang punggung keluarga”, Dea menegaskan haknya menentukan arah hidup.

Ia menutup wawancara dengan harapan semua orang dapat hidup sesuai pilihan masing‑masing tanpa tekanan sosial.

Keputusan Dea untuk tetap hidup sederhana mencerminkan nilai pribadi yang kuat di tengah dinamika industri hiburan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.