Media Kampung – 05 April 2026 | Pada malam 4 April 2026, warga Lampung menyaksikan cahaya meluncur cepat di langit, mirip hujan meteor.
Video amatir yang tersebar di media sosial menampilkan kilatan dengan ekor panjang yang menghilang setelah beberapa detik.
Reaksi warga beragam, mulai rasa takjub hingga spekulasi mengenai asalnya.
Banyak yang awalnya menebak fenomena tersebut adalah komet atau meteor karena bentuknya yang menyerupai hujan bintang.
“Saya pikir itu komet, informasi yang beredar tidak jelas, tapi tetangga bilang bukan,” kata Ruslan, 44 tahun, penduduk setempat.
Yani, 38 tahun, menambahkan, “Terlihat seperti rudal, tidak menyangka ada rudal sampai Indonesia.”
Pusat Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) kemudian memberikan klarifikasi resmi.
Menurut Dr. Annisa Novia Indra Putri, kepala OAIL, objek itu merupakan sampah antariksa dari bagian roket China, bukan fenomena alami.
Identifikasi spesifik mengarah pada CZ-3B R/B, bagian tubuh roket peluncur Long March 3B yang diluncurkan pada 23 Januari 2025.
Data Center for Orbital and Reentry Debris Studies (CORDS) mencatat empat kandidat debris yang diprediksi jatuh pada 4 April, termasuk Starlink-4461 dan CZ-4B R/B.
Penentuan CZ-3B R/B dipilih karena inklinasi orbit 28,0 derajat cocok dengan pengamatan kamera all-sky OAIL pada rentang 32‑34 derajat.
Dr. Annisa menegaskan perbedaan gerakan dan jejak optik antara meteorit dan debris buatan manusia.
BRIN juga mengonfirmasi temuan tersebut, menyebutkan bahwa benda itu merupakan pecahan roket Cina, bukan meteor.
Prof. Thomas Djamaluddin, pakar BRIN, menambahkan, “Kejadian ini memperlihatkan dampak meningkatnya peluncuran satelit terhadap frekuensi re‑entry sampah antariksa.”
Fenomena re‑entry seperti ini menjadi konsekuensi dari aktivitas peluncuran satelit yang semakin intensif.
Secara bersamaan, langit Indonesia pada awal April diperkirakan akan mengalami hujan meteor Lyrid, yang biasanya menarik minat pengamat.
Beberapa komunitas Muslim melakukan doa dan dzikir saat menyaksikan hujan meteor, menganggapnya sebagai tanda keberkahan.
Namun, OAIL menegaskan bahwa cahaya yang muncul di Lampung tidak berhubungan dengan hujan meteor Lyrid.
Pihak kepolisian setempat menegaskan tidak ada laporan kerusakan atau cedera, serta menyatakan bahwa informasi hoaks harus dihindari.
Kejadian ini meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya sampah antariksa dan mendorong upaya pelacakan yang lebih ketat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan