Media Kampung – 11 April 2026 | Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa tradisi halal bihalal dapat menjadi energi keagamaan sekaligus sarana memperkuat kebersamaan dalam rangka membangun bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah yang digelar di Kabupaten Batang pada Sabtu 11 April 2026.
Ia menambahkan bahwa semangat saling memaafkan dan bersilaturahmi pada hari tersebut dapat menstimulus rasa solidaritas antar anggota Muhammahiyah di seluruh Indonesia.
Acara tersebut dihadiri oleh para pimpinan wilayah, tokoh agama, serta aktivis muda Muhammadiyah yang mewakili berbagai lapisan masyarakat.
Dalam sambutannya, Nashir menyoroti pentingnya mengaitkan tradisi budaya dengan tujuan dakwah yang lebih luas.
Ia menekankan bahwa energi keagamaan yang dihasilkan dari halal bihalal dapat dialirkan ke program-program sosial, pendidikan, dan kesehatan yang dijalankan organisasi.
Hal ini sejalan dengan visi Muhammadiyah untuk menjadi kekuatan utama dalam membangun peradaban berlandaskan nilai-nilai Islam yang progresif.
Selain menekankan dimensi spiritual, Nashir juga menyinggung peran halal bihalal dalam mempererat jaringan persaudaraan antar wilayah.
Ia berpendapat bahwa silaturahmi yang terjalin dapat mempermudah koordinasi kegiatan kemasyarakatan lintas daerah.
Nashir mengingatkan bahwa tantangan global, seperti perubahan iklim dan ketimpangan ekonomi, memerlukan sinergi seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah siap berkontribusi melalui program-program berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersinergi dengan nilai moral agama.
Dalam konteks ini, halal bihalal dipandang sebagai wadah untuk menyebarkan semangat kebersamaan yang dapat menanggapi tantangan tersebut.
Selain menuturkan manfaat spiritual, Nashir mengajak semua anggota untuk menjadikan halal bihalal sebagai panggung edukasi mengenai hak-hak sosial dan kewajiban warga negara.
Ia mencontohkan bahwa pada pertemuan tersebut dapat disisipkan materi tentang pentingnya partisipasi dalam pemilu, pengelolaan sumber daya alam, serta pemberdayaan ekonomi lokal.
Hal ini sejalan dengan kebijakan Muhammadiyah yang menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas utama.
Dalam penutupannya, Nashir menekankan bahwa energi keagamaan yang dihasilkan dari halal bihalal harus diubah menjadi aksi nyata demi kemajuan bangsa.
Ia mengajak seluruh elemen Muhammadiyah untuk terus menumbuhkan rasa toleransi, keadilan, dan kepedulian sosial dalam setiap langkah mereka.
Acara halal bihalal di Batang berakhir dengan doa bersama, menandakan harapan seluruh peserta agar semangat kebersamaan dapat terus terjaga sepanjang tahun.
Kegiatan tersebut juga menjadi ajang pertukaran pengalaman antara pimpinan wilayah, yang diharapkan dapat memperkaya program kerja masing-masing daerah.
Dengan demikian, halal bihalal tidak hanya menjadi tradisi tahunan, melainkan platform strategis bagi Muhammadiyah dalam memperkuat peran sosial dan keagamaan.
Penguatan semacam ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Haedar Nashir menutup dengan harapan agar setiap anggota Muhammadiyah menjadikan energi kebersamaan ini sebagai motivasi untuk berkontribusi lebih aktif dalam memajukan bangsa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan