Media Kampung – 11 April 2026 | Rais Aam Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ahmad Mubarok, menegaskan bahwa cahaya lahiriah bersifat sementara, sedangkan cahaya batiniah memiliki sifat abadi. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah ceramah yang dihadiri oleh para ulama, tokoh agama, dan masyarakat umum.

Sebaliknya, cahaya batiniah yang dimaksud adalah cahaya iman, ilmu, dan ketakwaan yang mengakar pada hati. Cahaya ini, kata Rais Aam, memberi ketenangan, kejelasan, dan kebahagiaan yang tidak terpengaruh oleh perubahan zaman.

Dalam rangka menegaskan pernyataan tersebut, Rais Aam mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menekankan keutamaan menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia menegaskan bahwa ilmu yang bersifat spiritual memberikan cahaya yang menuntun hidup manusia menuju kebahagiaan hakiki.

Rais Aam menuturkan bahwa banyak umat yang terjebak pada pencarian cahaya lahiriah tanpa menyadari bahaya yang mengintai. Ia mengingatkan bahwa pencarian tersebut sering berujung pada kebingungan, stres, dan perpecahan dalam keluarga.

Untuk mengatasi hal itu, ia menyarankan peningkatan aktivitas keagamaan, seperti shalat, dzikir, dan membaca Al‑Qur’an secara rutin. Aktivitas-aktivitas ini, menurutnya, dapat menyalakan cahaya batiniah yang menyehatkan jiwa.

Selain itu, Rais Aam menekankan pentingnya pendidikan agama yang menyeimbangkan antara ilmu dunia dan ilmu agama. Ia berpendapat bahwa kurikulum pendidikan harus mengintegrasikan nilai-nilai spiritual sehingga generasi muda dapat mengembangkan cahaya batiniah sejak dini.

Dalam konteks sosial, Rais Aam mengajak para pemimpin komunitas untuk menjadi contoh dalam mengutamakan cahaya batiniah. Ia menilai bahwa pemimpin yang berlandaskan nilai spiritual akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan keadilan di antara masyarakat.

Pernyataan tersebut mendapat sambutan positif dari para tokoh Nahdlatul Ulama yang hadir. Mereka sepakat bahwa fokus pada cahaya batiniah dapat memperkuat persatuan umat dalam menghadapi tantangan modernitas.

Beberapa peserta ceramah mengaku merasakan kedamaian setelah mendengarkan penjelasan Rais Aam. Mereka menyatakan niat untuk memperbanyak kegiatan keagamaan sebagai upaya menyalakan cahaya batiniah dalam kehidupan sehari‑hari.

Rais Aam menutup ceramahnya dengan mengingatkan pentingnya introspeksi diri. Ia menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab untuk memilih cahaya mana yang akan menjadi pegangan hidupnya.

Pernyataan Rais Aam ini selaras dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Ia mengingatkan bahwa dunia hanyalah sarana sementara, sementara akhirat adalah tujuan utama.

Dalam konteks ekonomi, Rais Aam menekankan bahwa pencarian materi semata tidak dapat menjamin kepuasan jangka panjang. Ia mencontohkan bahwa banyak orang kaya yang tetap merasakan kekosongan batin karena kurangnya cahaya spiritual.

Ia menambahkan bahwa investasi pada ilmu agama dan peningkatan kualitas ibadah adalah investasi yang tidak pernah merugi. Menurutnya, cahaya batiniah akan terus bersinar bahkan ketika semua harta dunia telah tiada.

Rais Aam juga menyinggung pentingnya peran media dalam menyebarkan nilai-nilai spiritual. Ia berharap media dapat menampilkan konten yang memperkuat cahaya batiniah, bukan sekadar sensasi duniawi.

Selain itu, ia mengajak para pendidik untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, keikhlasan, dan ketulusan dalam proses belajar mengajar. Pendidikan yang mengedepankan cahaya batiniah akan menghasilkan generasi yang lebih bertanggung jawab.

Dalam wawancara singkat setelah ceramah, Rais Aam menuturkan bahwa ia melihat tren peningkatan minat masyarakat terhadap spiritualitas di era digital. Namun, ia memperingatkan agar minat tersebut tidak terjebak pada praktik superficial.

Ia menekankan perlunya pendekatan ilmiah dalam memahami ajaran agama, sehingga cahaya batiniah tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga dipahami secara rasional. Pendekatan ini, katanya, dapat mengurangi konflik interpretasi di kalangan umat.

Rais Aam menegaskan bahwa cahaya batiniah tidak bersifat eksklusif bagi kalangan tertentu; setiap orang memiliki hak untuk mencapainya. Ia mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama‑sama menumbuhkan cahaya itu melalui doa, amal, dan edukasi.

Dalam konteks politik, ia mengingatkan bahwa kebijakan publik harus berlandaskan nilai-nilai moral yang bersumber dari cahaya batiniah. Kebijakan semacam itu, menurutnya, akan menghasilkan keadilan sosial yang lebih merata.

Rais Aam menutup dengan doa, memohon agar Allah SWT memberikan cahaya batiniah kepada seluruh umat manusia. Ia berharap setiap individu dapat menemukan kebahagiaan hakiki yang tidak tergoyahkan oleh perubahan dunia.

Kajian para ahli menilai bahwa pesan Rais Aam sejalan dengan upaya revitalisasi nilai‑nilai keagamaan di Indonesia. Mereka menyatakan bahwa fokus pada cahaya batiniah dapat menjadi katalisator bagi perdamaian sosial.

Secara keseluruhan, ceramah ini menegaskan kembali pentingnya memilih cahaya yang abadi daripada yang sementara. Pesan ini diharapkan menjadi panduan bagi umat dalam mencari kebahagiaan sejati.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.