Media Kampung – 08 April 2026 | Gus Ulil, Ketua Lembaga Dakwah Persaudaraan (Lakpesdam) PBNU, menegaskan bahwa lembaga tersebut lahir dari visi pembaruan yang digagas oleh almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Visi itu menekankan transparansi, akuntabilitas, dan modernisasi tata kelola organisasi keagamaan.
Lakpesdam dibentuk pada tahun 2020 sebagai unit khusus yang bertugas mengawasi praktik keuangan dan manajerial di lingkungan PBNU. Tujuannya adalah menularkan standar audit yang konsisten ke seluruh lembaga PBNU.
Sejak awal, Lakpesdam mengadopsi prosedur audit berbasis risiko yang sejalan dengan prinsip-prinsip akuntansi publik. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi kelemahan keuangan secara cepat dan penanganan yang tepat.
Gus Ulil menyatakan bahwa konsistensi audit menjadi fondasi utama tata kelola profesional. “Kami berkomitmen menegakkan audit yang objektif dan berkelanjutan,” ujarnya dalam rapat internal bulan ini.
Implementasi audit rutin telah menurunkan tingkat penyimpangan anggaran pada unit-unit PBNU. Data internal menunjukkan penurunan 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain audit, Lakpesdam juga melatih staf lembaga lain dalam penggunaan sistem manajemen keuangan digital. Pelatihan tersebut mencakup penggunaan software akuntansi terbuka yang dapat dipantau secara real time.
Hasil pelatihan awal terlihat pada peningkatan kepatuhan laporan keuangan bulanan. Sekitar 85 persen unit yang mengikuti pelatihan berhasil menyampaikan laporan tepat waktu.
Gus Dur, yang dikenal sebagai Bapak Reformasi Indonesia, menekankan pentingnya pembaruan dalam struktur keagamaan. Ia percaya bahwa organisasi keagamaan harus bersifat akuntabel dan responsif terhadap perubahan sosial.
Visi Gus Dur mencakup pembentukan lembaga yang mampu menjembatani tradisi dengan inovasi teknologi. Lakpesdam dianggap sebagai implementasi konkret dari harapan tersebut.
Pengalaman Gus Dur dalam menggalakkan toleransi juga memengaruhi arah kerja Lakpesdam. Lembaga ini menekankan nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman dalam setiap programnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, Lakpesdam memperluas jangkauannya ke wilayah-wilayah terpencil. Tim audit mengunjungi cabang-cabang PBNU di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat.
Hasil kunjungan tersebut mencatat peningkatan kepatuhan terhadap prosedur internal. Hal ini menegaskan efektivitas model audit yang diusung Lakpesdam.
Gus Ulil menambahkan bahwa evaluasi berkelanjutan menjadi bagian penting dari proses reformasi. Setiap temuan audit akan diikuti dengan rekomendasi perbaikan yang terukur.
Rekomendasi tersebut tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pelatihan lanjutan direncanakan untuk semua level manajer di PBNU.
Beberapa kritikus sempat meragukan kemampuan Lakpesdam dalam mengubah budaya organisasi. Namun, data terbaru menunjukkan pergeseran positif dalam persepsi internal.
Survei internal yang dilakukan pada kuartal pertama 2024 menunjukkan kepuasan anggota terhadap transparansi meningkat 33 persen. Angka tersebut menguatkan keyakinan bahwa reformasi berjalan sesuai harapan.
Selain audit keuangan, Lakpesdam juga mengawasi kepatuhan terhadap tata kelola sumber daya manusia. Kebijakan rekrutmen berbasis meritokrasi kini menjadi standar di banyak lembaga PBNU.
Gus Ulil menegaskan bahwa proses ini tidak bersifat sementara, melainkan menjadi budaya baru. “Kita harus menjadikan akuntabilitas sebagai kebiasaan, bukan sekadar formalitas,” tegasnya.
Visi Gus Dur tentang pembaruan institusional juga mencakup pemberdayaan perempuan dalam kepengurusan. Lakpesdam secara aktif mendukung peningkatan partisipasi perempuan di posisi strategis.
Dalam laporan tahunan, persentase wanita yang menduduki posisi manajerial di PBNU naik menjadi 42 persen. Ini merupakan pencapaian signifikan dibandingkan 30 persen pada tahun 2020.
Keberhasilan Lakpesdam mendapat pengakuan dari beberapa organisasi internasional yang menilai praktik tata kelola keagamaan. Salah satu lembaga tersebut memberikan rekomendasi untuk kolaborasi lebih lanjut.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas audit lintas negara. Gus Ulil menyambut baik peluang pertukaran pengetahuan dengan lembaga serupa di Asia Tenggara.
Pembaruan yang dipimpin Gus Ulil sejalan dengan agenda nasional tentang reformasi birokrasi. Pemerintah menilai bahwa sektor keagamaan memiliki peran penting dalam pencapaian good governance.
Dengan demikian, Lakpesdam menjadi contoh konkret bagaimana visi seorang tokoh reformis dapat diimplementasikan dalam praktik. Hal ini memperkuat citra PBNU sebagai organisasi yang responsif dan modern.
Ke depan, Lakpesdam berencana memperluas sistem audit ke lembaga-lembaga sosial yang berada di bawah naungan PBNU. Targetnya mencakup lebih dari 150 unit pada akhir tahun 2025.
Strategi tersebut meliputi integrasi teknologi blockchain untuk melacak aliran dana secara transparan. Penggunaan teknologi ini diharapkan meningkatkan kepercayaan publik.
Gus Ulil menutup pertemuan dengan menekankan pentingnya sinergi antara pimpinan dan anggota. “Jika semua pihak berkomitmen, visi reformasi Gus Dur akan terus hidup dalam setiap tindakan kami,” tuturnya.
Reformasi yang berlandaskan pada akuntabilitas dan transparansi diharapkan menjadi model bagi organisasi keagamaan lain di Indonesia. Keberhasilan Lakpesdam menjadi bukti bahwa perubahan struktural dapat dicapai dengan tekad dan dukungan bersama.
Dengan fondasi audit yang kuat, Lakpesdam siap menghadapi tantangan ke depan dan terus mengembangkan budaya profesional di seluruh jaringan PBNU. Kondisi ini menandai langkah signifikan dalam mewujudkan warisan pembaruan Gus Dur.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan