Media Kampung – 05 April 2026 | Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, menyampaikan metode membaca buku yang diterapkan oleh para ulama dalam sebuah kajian yang diadakan KADAR bersama Penerbit Irfani pada Kamis, 30 Maret.
Metode pertama yang dijelaskan adalah membaca dengan niat yang tulus, dimana tujuan utama adalah menguatkan keimanan serta menambah pemahaman tentang ajaran Islam.
Selanjutnya, ulama biasanya memulai dengan membaca pendahuluan atau tafsir singkat untuk memperoleh gambaran umum sebelum menyelam lebih dalam ke isi teks.
Setelah itu, mereka melakukan pencatatan poin-poin penting secara sistematis, baik dalam bentuk catatan margin maupun buku catatan khusus.
Romadhon menekankan pentingnya menelaah referensi silang, yaitu membandingkan pendapat dalam satu karya dengan sumber lain yang relevan untuk menghindari interpretasi sempit.
Proses ini diikuti dengan diskusi internal di antara para murid atau kolega, yang memungkinkan pertukaran pandangan dan koreksi terhadap pemahaman yang belum tepat.
Dalam praktiknya, ulama juga memperhatikan tata bahasa dan stilistika, karena kejelasan bahasa dianggap esensial dalam menyampaikan makna yang akurat.
Kebiasaan mengulang bacaan secara berkala juga menjadi bagian tak terpisahkan, sehingga pengetahuan dapat terinternalisasi dan tidak mudah pudar.
Romadhon menambahkan bahwa penggunaan teknologi modern, seperti aplikasi digital untuk anotasi, tidak menyalahi tradisi asalkan tidak mengurangi kedalaman pemikiran.
Ia mengingatkan bahwa tujuan akhir membaca buku bagi ulama adalah mengimplementasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari serta menyebarkannya kepada masyarakat luas.
Kegiatan kajian ini mencerminkan upaya revitalisasi tradisi literasi Islam di era digital, dimana nilai-nilai klasik dipadukan dengan metode kontemporer.
Dengan menegakkan pola baca yang disiplin dan reflektif, para ulama diharapkan dapat memperkuat fondasi keilmuan umat serta menjawab tantangan zaman.
Penekanan pada etika membaca juga ditekankan, dimana setiap ulama diharapkan menjaga kebersihan hati dan niat selama proses belajar.
Selain buku cetak, sumber audio dan video yang berisi kajian ulama senior turut menjadi referensi tambahan, memperluas cakupan pengetahuan.
Akhirnya, para peserta kajian diminta menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam kegiatan mengajar di pesantren dan lembaga pendidikan Islam.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan