Media Kampung – 05 April 2026 | Jakarta, 4 April 2026 – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. KH. Said Aqil Siroj, menyerukan tokoh agama untuk menenangkan masyarakat menjelang puncak krisis energi yang tengah melanda Indonesia dan dunia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan internal PBNU yang dihadiri para ulama, kyai, dan aktivis keagamaan di Istana Negara.
Dalam sambutannya, Ketua PBNU menegaskan bahwa ketegangan sosial dapat diperparah bila informasi keliru menyebar di tengah kenaikan harga bahan bakar dan pemadaman listrik. Ia menambahkan bahwa peran tokoh agama sangat krusial untuk menyebarkan pesan ketenangan dan solidaritas.
PBNU menanggapi kondisi tersebut dengan mengedepankan jalur diplomasi, mengajak pemimpin agama lintas keyakinan untuk menjadi mediator dalam dialog kebijakan energi nasional. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat konsensus nasional serta mendukung upaya perdamaian dunia.
Dr. KH. Said Aqil menyebut, “Kita harus menjadi suara yang menenangkan, bukan memperkeruh situasi, karena umat membutuhkan kepastian dan harapan di masa sulit ini.” Ia menekankan pentingnya komunikasi yang berbasis fakta dan nilai moral agama.
Sebagai tindak lanjut, PBNU menginstruksikan semua masjid, pesantren, dan lembaga keagamaan untuk menyebarkan materi edukatif tentang penghematan energi dan perilaku hemat listrik. Materi tersebut mencakup tips penggunaan lampu LED, pemanfaatan energi terbarukan, serta penjadwalan penggunaan peralatan rumah tangga.
Selain itu, PBNU berkoordinasi dengan Kementerian Energi untuk memastikan bahwa kebijakan subsidi energi tidak menimbulkan diskriminasi antar wilayah. Kerjasama ini diharapkan dapat mengurangi beban ekonomi masyarakat miskin yang paling terdampak.
Pengamat politik, Dr. Rizky Pratama, menilai bahwa ajakan PBNU dapat menurunkan potensi konflik sosial yang sering muncul ketika harga kebutuhan pokok melambung. Ia mencatat bahwa peran lembaga keagamaan sebagai penyeimbang opini publik sudah terbukti efektif pada krisis sebelumnya.
Di tingkat internasional, pernyataan PBNU sejalan dengan inisiatif organisasi keagamaan global yang menggalang dialog antar umat beragama untuk mengatasi perubahan iklim dan krisis energi. Kerjasama lintas negara ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai mediator damai dalam forum multilateral.
Dengan mengedepankan pendekatan diplomasi dan peran aktif tokoh agama, PBNU berharap masyarakat dapat melewati masa krisis energi dengan tetap menjaga kestabilan sosial dan semangat kebersamaan. Harapan tersebut menjadi landasan bagi upaya bersama pemerintah, lembaga keagamaan, dan warga untuk mencapai ketahanan energi dan perdamaian berkelanjutan.
PBNU juga menyiapkan tim khusus yang akan mengunjungi daerah‑daerah rawan pemadaman untuk memberikan penyuluhan langsung kepada warga. Tim tersebut terdiri dari ulama, teknisi energi, dan relawan yang dilatih untuk menyampaikan informasi teknis secara mudah dipahami.
Kegiatan penyuluhan mencakup demonstrasi penggunaan panel surya portabel serta cara mengoptimalkan penggunaan baterai rumah tangga. Diharapkan langkah ini dapat meningkatkan kesadaran energi terbarukan di tingkat komunitas.
Dalam konteks global, krisis energi dipicu oleh ketegangan geopolitik di beberapa wilayah produsen minyak, serta gangguan rantai pasokan setelah pandemi. Pemerintah Indonesia bersama lembaga keagamaan berkomitmen memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi.
Akhirnya, Ketua PBNU menutup pertemuan dengan mengingatkan pentingnya persatuan lintas agama dalam mengatasi tantangan bersama. Ia menegaskan bahwa ketenangan masyarakat adalah prasyarat utama bagi stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan