Media Kampung – 04 April 2026 | Selama Pekan Suci, kota bersejarah Goiás Velho di Brasil menyelenggarakan prosesi Fogaréu yang menirukan penangkapan Yesus secara dramatis.
Acara dimulai pada tengah malam, dengan peserta menggendong obor yang menambah nuansa kelam dan sakral.
Penyelenggara menjelaskan tujuan prosesi adalah menyampaikan narasi Passion dengan cara yang relevan bagi masyarakat setempat sekaligus melestarikan tradisi.
Rute prosesi melintasi jalan‑jalan kolonial, melewati Gereja Santo Fransiskus dari Assisi yang masuk dalam daftar warisan UNESCO.
Para pelaku memainkan peran tentara Romawi, Yudas, serta massa, memakai kostum zaman dulu dan mengandalkan gerakan serta pencahayaan.
Obor yang dibawa melambangkan kegelapan pengkhianatan dan sekaligus cahaya penebusan.
Pemerintah daerah mendukung acara ini sebagai daya tarik pariwisata budaya, mencatat peningkatan kunjungan pada pekan tersebut.
Wali kota João Silva menegaskan prosesi bukan pertemuan sekte melainkan ekspresi iman bersama.
Ia menekankan pentingnya menghormati keragaman agama dan menolak anggapan bahwa acara tersebut bersifat sekte.
Para akademisi teologi dari universitas terdekat mengonfirmasi tradisi Fogaréu berakar sejak abad ke‑19, hasil warisan ritual kolonial Portugis.
Awalnya tradisi menggabungkan drama liturgi dengan folklore lokal, kemudian berkembang menjadi pementasan tengah malam yang ada kini.
Peserta menjalani latihan berbulan‑bulan, mempelajari koreografi dan naskah, banyak di antaranya relawan dari berbagai usia.
Seorang warga berusia 65 tahun, Maria dos Santos, mengatakan persiapan tersebut memperkuat ikatan komunitas serta refleksi spiritual.
Ia menambahkan bahwa cahaya api menciptakan suasana khidmat yang membantu fokus pada pesan pengorbanan.
Beberapa pengkritik pernah menuduh acara ini mencampuradukkan devosi dengan pertunjukan, namun penyelenggara menolak tuduhan tersebut.
Mereka berargumen bahwa prosesi berfungsi sebagai sarana edukatif, memperkenalkan peristiwa Injil kepada yang kurang familiar.
Keuskupan Katolik Goiás mengeluarkan pernyataan mendukung Fogaréu, menyatakan bahwa acara sejalan dengan tradisi drama Passion Gereja.
Keuskupan juga mengingatkan peserta untuk menjaga kesucian dan menghindari komersialisasi narasi suci.
Pengamat dari kota tetangga yang datang menyaksikan mengaku prosesi ini merupakan perpaduan unik antara teater dan pengabdian.
Malam berakhir dengan doa berdoa lilin di dalam gereja, dimana hadir merenungkan tema pengkhianatan dan pengampunan.
Secara keseluruhan, prosesi Fogaréu terus menarik perhatian sebagai ekspresi budaya‑keagamaan yang menjembatani sejarah, iman, dan identitas komunitas.
Dengan demikian, prosesi tetap menjadi bagian penting Pekan Suci di Goiás Velho, memperkuat warisan lokal sekaligus membuka dialog lebih luas tentang praktik keagamaan dalam seni.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan