Media Kampung – 04 April 2026 | Gus Fahrur, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menyatakan keprihatinannya atas video pasangan muda yang berpelukan sambil tidur di sebuah musala di Kebumen.

Ia menegaskan bahwa tempat ibadah harus dijaga kesuciannya dan tidak dijadikan lokasi untuk perilaku yang tidak pantas.

Gus Fahrur menambahkan bahwa fenomena ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan gejala yang memerlukan perhatian serius.

Ia menyoroti bahwa generasi muda kini lebih mudah terpengaruh oleh budaya populer yang mengaburkan batas antara privat dan publik.

Dalam pernyataannya, Ketua PBNU menekankan pentingnya peran orang tua, tokoh agama, dan lembaga pendidikan dalam membentuk karakter.

Ia mengajak semua pihak untuk melakukan pembinaan yang bersifat preventif, bukan sekadar mengkritik setelah kejadian.

Pembinaan yang dimaksud meliputi penguatan nilai-nilai moral, pendidikan agama, serta kegiatan positif yang menyalurkan energi remaja.

Gus Fahrur juga menegaskan bahwa pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya reaktif ketika kasus muncul.

Ia berharap agar komunitas Muslim di Kebumen dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung perilaku Islami yang santun.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab pribadi untuk menjaga kehormatan tempat ibadah.

Jika terjadi pelanggaran, ia menyarankan agar dilakukan pendekatan yang bersifat edukatif, bukan sekadar sanksi administratif.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri jurnalis lokal dan tokoh masyarakat.

Gus Fahrur menuturkan bahwa video viral tersebut telah menyebar luas di media sosial, menimbulkan keprihatinan publik.

Ia mengapresiasi perhatian masyarakat, namun menekankan bahwa solusi jangka panjang harus melibatkan pendidikan nilai.

Dalam konteks ini, PBNU berencana meluncurkan program pembinaan khusus bagi remaja di wilayah Jawa Tengah.

Program tersebut akan mencakup pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial, serta penguatan pemahaman agama yang kontekstual.

Gus Fahrur menegaskan bahwa program ini tidak bersifat eksklusif, melainkan terbuka bagi seluruh pemuda yang membutuhkan bimbingan.

Ia menutup dengan harapan bahwa kasus ini menjadi titik tolak untuk memperkuat etika publik di lingkungan keagamaan.

Ia juga mengingatkan bahwa media memiliki peran penting dalam menyebarkan pesan positif, bukan sekadar mengedepankan sensasi.

Pernyataan tersebut mencerminkan upaya PBNU untuk tetap relevan dalam dinamika sosial yang terus berubah.

Gus Fahrur menegaskan komitmen organisasi untuk terus mengawal moralitas umat dalam era digital.

Ia mengajak umat Islam untuk kembali menegakkan nilai-nilai kesopanan dan rasa hormat dalam interaksi sehari-hari.

Pada akhirnya, Ketua PBNU berharap bahwa insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda Indonesia.

Ia mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam menciptakan masyarakat yang lebih beradab dan berbudaya Islam yang sesungguhnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.