Media Kampung – 26 Maret 2026 | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan melaporkan bahwa banjir melanda 11 kecamatan, menenggelamkan 6.650 rumah dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa titik.

Fenomena tersebut dipicu oleh hujan lebat yang turun hampir merata sejak malam Selasa (24 Maret) hingga pagi Rabu (25 Maret) 2026.

Kecamatan paling terdampak adalah Beji, di mana enam desa—Beji, Kedungringin, Gununggangsir, Pagak, Kedungboto, dan Cangkringmalang—mengalami genangan tinggi, khususnya di Dusun Pasinan dengan air setinggi 1,2 meter dan 72 rumah terendam.

Di Kecamatan Rejoso, desa Jarangan dan Toyaning mencatat genangan antara 10 hingga 30 sentimeter, merusak sebagian rumah warga.

Kecamatan Bangil juga terdampak; lima kelurahan (Kalianyar, Tambakan, Kauman, Kalirejo, Latek) serta tiga desa (Manaruwi, Tambakan, Masangan) mengalami genangan 20‑60 sentimeter.

Winongan melaporkan delapan desa—Menyarik, Mendalan, Gading, Minggir, Prodo, Winongan Lor, Winongan Kidul, Penataan—dengan ketinggian air tertinggi mencapai 80 sentimeter.

Selain itu, desa Kedawung Kulon (Grati), Tenggilis (Gondangwetan), Tanggulangin (Kejayan), Sidogiri (Kraton), dan Jogorepuh (Pasrepan) juga mengalami banjir.

Beberapa wilayah di Kecamatan Gempol dan Pohjentrek melaporkan ketinggian air antara 20 hingga 80 sentimeter, menambah beban penanganan.

BPBD bersama relawan melakukan evakuasi ribuan warga ke tiga shelter yang telah diaktifkan, sekaligus mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan.

Logistik bantuan berupa paket sembako, selimut, dan perlengkapan kebersihan disalurkan ke titik-titik terdampak secara bertahap.

Tim penilai kerusakan infrastruktur tengah memetakan dampak pada jalan, jembatan, dan jaringan listrik di Bangil, Winongan, serta Rejoso.

Ketiga shelter yang dibuka terletak di kawasan strategis, masing‑masing menampung ratusan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Kepala BPBD Pasuruan, Sugeng Hariyadi, menegaskan bahwa banjir ini merupakan konsekuensi curah hujan ekstrem yang melampaui kapasitas drainase daerah.

Dia menambahkan, “Para relawan dan tim kami bekerja tanpa henti untuk memastikan warga mendapatkan tempat aman dan bantuan dasar secepatnya.”

Koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus dipertahankan untuk memperkuat upaya penanggulangan dan pemulihan.

BMKG memperkirakan hujan lebat masih berpotensi berlanjut dalam beberapa hari ke depan, sehingga otoritas mengimbau masyarakat tetap waspada.

Pasuruan memang memiliki catatan historis banjir musiman, namun intensitas tahun ini dinilai lebih tinggi dibandingkan kejadian sebelumnya.

Kerusakan pada lahan pertanian, terutama sawah di pinggiran desa, diperkirakan menurunkan produktivitas musim tanam mendatang.

Pemerintah daerah menyarankan warga yang belum dievakuasi untuk tetap berada di tempat aman dan memanfaatkan jalur komunikasi resmi untuk informasi terkini.

Dengan upaya bersama antara pemerintah, lembaga bantuan, dan masyarakat, diharapkan proses pemulihan dapat berjalan cepat dan mengurangi dampak jangka panjang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.