Media Kampung – 04 April 2026 | Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari bersama Wakil Wali Kota Rachman Sidharta Arisandi memimpin aksi kerja bakti di Kelurahan Mentikan pada Jumat, 27 Maret.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sinergi program Indonesia ASRI dan RT Berseri yang bertujuan menjaga kebersihan lingkungan serta melakukan mitigasi bencana di wilayah aliran sungai.
Selama inspeksi lapangan, Ika Puspitasari—yang akrab disapa Ning Ita—menemukan setidaknya lima titik kritis pada tanggul Sungai Brangkal yang mengalami abrasi dengan tingkat sedang hingga parah.
Kelima titik tersebut berada di sepanjang batas sungai yang melintasi kawasan padat penduduk, sehingga mengancam keamanan ribuan warga sekitar.
“Ada lima lokasi yang kondisinya sangat mengkhawatirkan karena abrasi, terutama dengan cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi di hulu,” ujar Ning Ita.
Ia menambahkan bahwa risiko rembes atau jebol pada tanggul dapat menimbulkan dampak signifikan bagi permukiman yang berada di seberang sungai.
Pemerintah kota tidak memiliki wewenang penuh untuk melakukan revitalisasi tanggul karena tujuh sungai utama di Mojokerto berada di bawah pengelolaan kementerian.
Oleh karena itu, Pemkot Mojokerto harus berkoordinasi dengan pihak pengguna aset, yaitu Jasa Tirta, serta Kementerian SDA dan Mensesneg untuk mempercepat perbaikan.
Dalam pernyataannya, Ika Puspitasari menegaskan bahwa surat permohonan akan segera dikirimkan kepada Jasa Tirta dan disalin ke kementerian terkait.
Surat tersebut diharapkan dapat menarik perhatian pemerintah pusat sehingga langkah perbaikan tidak tertunda.
Aksi kerja bakti dijadwalkan berlangsung setiap hari Jumat, dengan harapan dapat menumbuhkan kesadaran warga akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Partisipasi masyarakat di Mentikan terlihat antusias, dengan relawan lokal membantu membersihkan sampah serta memantau kondisi tanggul.
Tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang turut mendampingi kegiatan, melakukan pemantauan visual pada titik-titik erosi.
Data lapangan menunjukkan bahwa beberapa titik mengalami erosi hingga 30 sentimeter dalam kurun waktu enam bulan terakhir.
Penyebab utama erosi diperkirakan berasal dari aliran deras, penggundulan lahan di hulu, serta kurangnya vegetasi penahan di tepi sungai.
Pemerintah daerah berencana menanam kembali pohon dan semak di daerah rawan erosi untuk meningkatkan stabilitas tanah.
Upaya penghijauan ini akan dipadukan dengan pembangunan struktur penahan tambahan, seperti batu-batu penahan dan geotekstil.
Selain itu, pihak terkait akan melakukan pemetaan digital untuk memantau perubahan morfologi sungai secara berkala.
Pemantauan digital diharapkan memberikan data real-time yang dapat mempercepat respons bila terjadi pergeseran atau kerusakan baru.
Ika Puspitasari menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga teknis, dan masyarakat dalam mengatasi ancaman abrasi.
Ia juga mengingatkan bahwa mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan partisipasi aktif setiap warga.
Program Indonesia ASRI yang menjadi landasan kerja bakti berfokus pada peningkatan sanitasi, penyuluhan kebersihan, dan penanggulangan bencana lingkungan.
RT Berseri, program lain yang terintegrasi, mendorong peran serta unit tingkat RT dalam menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan.
Kombinasi kedua program tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih tahan terhadap bencana alam, termasuk banjir dan longsor.
Pemerintah kota menargetkan penurunan angka abrasi sebesar 20 persen dalam dua tahun ke depan melalui langkah-langkah terkoordinasi.
Dengan kerja bakti yang terus berlanjut dan dukungan lintas sektoral, diharapkan kondisi tanggul Sungai Brangkal dapat dipulihkan sehingga warga Mentikan dapat hidup lebih aman.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan