Media Kampung – 08 April 2026 | Empat bulan setelah banjir melanda Pidie Jaya, lahan pertanian masih terbenam dalam lapisan lumpur tebal. Petani di wilayah tersebut belum dapat menyiapkan sawah untuk tanam padi.

Banjir besar terjadi pada November 2023, menenggelamkan hampir seluruh daerah pertanian di kabupaten ini. Air yang menggenang tidak kunjung surut, mengakibatkan tanah menjadi lumpur tak subur.

Petani setempat, Abdul Rahman, mengaku kehilangan masa tanam pertama tahun ini. “Kami sudah menyiapkan bibit, namun tanah belum siap untuk ditanami,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Petani Pidie Jaya, Siti Aminah, menilai kerusakan mengancam pendapatan keluarga. “Jika tidak ada bantuan, banyak rumah tangga akan terpuruk,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya menyatakan akan melakukan rehabilitasi lahan. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menargetkan penanganan selesai sebelum musim tanam berikutnya.

Dinas Pertanian setempat merencanakan penggunaan alat pengolah tanah dan pemupukan khusus. Namun, proses tersebut memerlukan dana tambahan yang belum tersedia.

Bupati Pidie Jaya, Zainal Arifin, menyatakan prioritas alokasi anggaran untuk penanggulangan banjir. “Kami akan mengajukan dana ke pemerintah pusat,” katanya.

Sementara upaya tersebut, petani tetap menunggu hasil survei tanah. Pemeriksaan laboratorium diharapkan memastikan kesuburan kembali.

Kondisi lumpur yang padat memperlambat pengerjaan alat berat. Traktor dan bulldozer harus menunggu permukaan tanah mengeras.

Beberapa LSM lingkungan menawarkan bantuan teknis. Yayasan Hijau Indonesia mengirimkan tim untuk pelatihan teknik pengeringan tanah.

Di sisi lain, para pedagang pasar tradisional melaporkan penurunan pasokan beras lokal. Harga beras meningkat sebesar 15% sejak Januari.

Perekonomian daerah yang bergantung pada pertanian kini mengalami tekanan. Sektor pertanian menyumbang 45% PDB Pidie Jaya.

Analisis dari Badan Pusat Statistik menunjukkan penurunan produksi padi sebesar 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini berpotensi menurunkan devisa daerah.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menyiapkan paket bantuan. Paket tersebut meliputi pupuk subsidi dan bibit unggul.

Namun, distribusi bantuan memerlukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten. Proses birokrasi diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga bulan.

Petani mengharapkan kecepatan dalam penyaluran bantuan. “Setiap hari menunggu membuat kami kehilangan peluang panen,” kata Abdul.

Di lapangan, upaya pemulihan dimulai dengan pembersihan sampah dan puing. Tim relawan membersihkan jalur irigasi yang tersumbat.

Irigasi yang masih tersumbat menghambat drainase alami. Tanpa aliran air yang baik, lumpur tidak dapat mengering secara alami.

Pemerintah daerah berencana membangun sistem drainase baru di wilayah rawan banjir. Proyek ini dijadwalkan selesai pada akhir tahun.

Sementara itu, para ahli tanah menyarankan penggunaan biochar untuk meningkatkan struktur tanah. Metode ini dapat membantu mengurangi kepadatan lumpur.

Pendekatan tersebut masih dalam tahap uji coba pada beberapa plot kecil. Hasil awal menunjukkan peningkatan porositas tanah.

Masyarakat setempat juga diminta berpartisipasi dalam penanaman pohon penahan air. Upaya ini diharapkan mengurangi erosi di masa mendatang.

Keterlibatan warga dalam program penghijauan telah mendapat respon positif. Lebih dari 200 keluarga berkomitmen menanam pohon bakau.

Meskipun ada langkah-langkah tersebut, situasi tetap belum stabil. Lahan pertanian belum dapat diolah secara optimal.

Pemerintah daerah menegaskan komitmen untuk memantau perkembangan secara berkala. Laporan bulanan akan dipublikasikan di portal resmi.

Petani berharap kebijakan tersebut dapat menutup kesenjangan antara kebutuhan dan bantuan. “Kami ingin kembali menanam demi masa depan anak‑anak kami,” ujar Siti.

Secara keseluruhan, sawah Pidie Jaya masih berada dalam kondisi kritis. Upaya kolaboratif antara pemerintah, LSM, dan masyarakat diperlukan untuk memulihkan produksi pertanian.

Kondisi ini menegaskan pentingnya penanggulangan bencana berkelanjutan di daerah rawan banjir. Pemulihan lahan menjadi prioritas utama menjelang musim tanam berikutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.