Media Kampung – 06 April 2026 | Dua ruang kelas di SDN Kutakarang 3, Pandeglang, mengalami kerusakan berat setelah terjadi pergerakan tanah pada akhir pekan lalu. Siswa kelas tersebut sementara belajar di dapur dan perpustakaan sekolah.

Kerusakan terjadi pada ruang kelas 3A dan 3B, yang terletak di blok timur gedung utama. Laporan awal menunjukkan retakan pada dinding dan lantai yang mengakibatkan sebagian atap ambruk.

Tim penyelamat mengaitkan pergerakan tanah dengan curah hujan tinggi selama tiga hari berturut‑turut serta kondisi tanah lempung di area tersebut. Gempa bumi ringan yang tercatat tidak cukup kuat untuk menjelaskan kerusakan tersebut.

Kepala SDN Kutakarang 3, Bapak Hadi Sutrisno, menyatakan bahwa prioritas utama adalah keselamatan siswa dan staf. Ia menambahkan bahwa pihak sekolah sedang berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mempercepat perbaikan.

Beberapa orang tua mengungkapkan kekhawatiran atas keamanan fasilitas belajar yang masih dipakai sementara. Mereka menekankan perlunya tindakan cepat agar proses belajar tidak terganggu lebih lama.

Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang mengirim tim teknis untuk menilai kerusakan pada Senin pagi. Tim tersebut akan menyiapkan rekomendasi perbaikan struktural dan alternatif ruang kelas sementara.

Penilaian awal menunjukkan bahwa kerusakan meliputi retakan struktural pada fondasi serta kerusakan pada sistem kelistrikan. Perbaikan diperkirakan memerlukan waktu minimal dua minggu.

Estimasi biaya perbaikan mencapai Rp 250 juta, menurut laporan tim teknis. Dana tersebut diharapkan dapat dipenuhi melalui alokasi anggaran darurat daerah dan bantuan pemerintah pusat.

Sementara itu, pihak sekolah menyiapkan kelas darurat di ruang perpustakaan dan dapur, dengan penataan meja dan kursi yang disesuaikan. Semua materi pembelajaran dipindahkan ke lokasi tersebut.

Guru menyatakan bahwa lingkungan belajar di dapur kurang ideal karena suhu dan kebisingan. Namun, mereka berupaya menjaga kualitas pengajaran dengan menyesuaikan jadwal pelajaran.

Jumlah siswa yang terdampak mencapai 120 orang, tersebar di kelas tiga dan empat. Semua siswa tersebut kini mengikuti pembelajaran di ruang darurat.

Pemerintah Kabupaten Pandeglang berjanji akan mempercepat pencairan dana bantuan. Selain itu, dinas sosial menyiapkan bantuan psikologis bagi siswa yang merasa cemas.

Camat Pandeglang, Ahmad Fauzi, menegaskan bahwa pihak berwenang akan memantau perkembangan perbaikan secara berkala. Ia juga mengingatkan pentingnya mitigasi risiko tanah bergerak di wilayah rawan.

Kejadian serupa pernah terjadi di beberapa desa di Banten pada tahun lalu, dimana tanah longsor mengganggu fasilitas publik. Pemerintah daerah kini memperketat prosedur inspeksi tanah sebelum pembangunan.

Ahli geologi dari Universitas Indonesia menyarankan pemasangan sistem drainase yang lebih baik serta penanaman vegetasi penahan erosi. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko pergerakan tanah di masa depan.

Guru mata pelajaran bahasa Indonesia, Ibu Siti, mengakui tantangan mengajar di ruang dapur. Ia berkomitmen tetap memberikan materi secara interaktif agar motivasi siswa tetap terjaga.

Komunitas warga setempat menggalang sumbangan bahan bangunan dan makanan untuk mendukung proses perbaikan. Partisipasi mereka menunjukkan solidaritas dalam menghadapi bencana kecil ini.

Secara keseluruhan, kondisi ruang kelas masih belum dapat digunakan, namun upaya perbaikan dan penyesuaian belajar telah berjalan. Pemerintah dan masyarakat berupaya memastikan proses pendidikan tidak terhenti secara signifikan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.