Media Kampung – 05 April 2026 | Gempa tektonik magnitude 7,6 mengguncang laut sekitar 132 km barat laut Ternate pada Jumat dini hari, menimbulkan kerusakan luas di Maluku Utara.

BNPB memperbarui data pada Sabtu, mencatat 355 jiwa mengungsi di kota Tidore Kepulauan dan ribuan rumah mengalami kerusakan.

Di Kota Ternate, 32 rumah rusak berat, 36 rusak sedang, dan 66 rusak ringan, sementara lima tempat ibadah dan gedung olahraga KONI turut terdampak.

Kota Tidore melaporkan 25 rumah rusak ringan, serta lima fasilitas keagamaan dan satu fasilitas umum yang mengalami kerusakan.

Di Kabupaten Halmahera Tengah, dua rumah mengalami kerusakan berat dan lima rumah rusak sedang; di Halmahera Barat, lima rumah rusak ringan tercatat.

Halmahera Selatan mencatat dua rumah rusak sedang, satu bangunan pendidikan, dan satu jembatan yang terganggu oleh gempa.

Abdul Muhari, kepala Pusat Data BNPB, menyampaikan BMKG mencatat 233 gempa susulan, dengan magnitudo tertinggi 5,8, memperparah situasi penanganan.

TNI mengerahkan pasukan untuk membantu evakuasi, pembersihan puing, dan layanan medis di daerah terdampak.

Shelter darurat didirikan di sekolah, balai desa, dan sebuah hotel di Tidore, menyediakan makanan, air bersih, serta layanan kesehatan dasar.

Di Manado, Sulawesi Utara, satu warga berusia 69 tahun tewas tertimpa reruntuhan gedung KONI, menegaskan dampak lintas provinsi.

Setelah gempa, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sembilan wilayah pesisir dengan ketinggian gelombang hingga 0,75 meter, namun peringatan dicabut setelah empat jam.

Pemerintah mengaktifkan Dana Siap Pakai (DSP) untuk mendanai perbaikan rumah dan infrastruktur, serta Menko PMK Pratikno menugaskan Letjen Suharyanto memimpin koordinasi lapangan.

Otoritas Ternate berencana memprioritaskan perbaikan rumah rusak berat serta perbaikan jalan dan jaringan air bersih sebelum penduduk kembali menempati.

Para pakar menilai wilayah ini rawan gempa karena berada di zona batas lempeng tektonik, menyerukan penegakan standar bangunan yang lebih ketat dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Organisasi non‑pemerintah serta Palang Merah Indonesia mengirimkan relawan untuk menyalurkan paket bantuan dan memberikan dukungan psikologis kepada keluarga yang terdampak.

Penanganan darurat terus berlangsung, sementara proses rekonstruksi jangka panjang akan bergantung pada sinergi antara pemerintah, donor, dan partisipasi warga.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.