Media Kampung – 01 April 2026 | KM Nazila 05, sebuah kapal penumpang yang melayani rute Pulau Taliabu‑Desa Kema, tenggelam pada Senin 30 Maret 2026 sekitar pukul 10.00 WITA.
Kapal berlayar dari Taliabu pada Minggu 29 Maret pukul 18.00 WIT dengan 27 anggota awak (ABK) dan sejumlah penumpang.
Pada saat kejadian, cuaca di perairan utara Taliabu diperkirakan berangin kencang dan ombak tinggi, menyulitkan navigasi.
Tim SAR gabungan Basarnas, Polri, dan TNI segera dikerahkan setelah pemilik kapal menghubungi Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu.
Operasi penyelamatan dimulai pada dini hari Selasa 31 Maret dan berhasil mengevakuasi 21 ABK dalam kondisi selamat.
Evakuasi selesai sekitar pukul 08.24 WITA, dan korban ditempatkan di fasilitas medis di Gorontalo untuk pemeriksaan lanjutan.
Enam anggota awak masih belum ditemukan; pencarian lanjutan menggunakan kapal penangkap ikan dan pesawat helikopter masih berlangsung.
Nama lengkap dan posisi ke-27 ABK yang hilang belum terkonfirmasi, namun pihak berwenang mencatat bahwa semua anggota memiliki latar belakang maritim profesional.
Dari 27 ABK, 14 adalah pelaut, 7 adalah teknisi mesin, dan 6 lainnya menjabat sebagai pramugari dan petugas kebersihan.
Semua ABK tercatat memiliki sertifikasi kelautan yang sah, termasuk pelatihan keselamatan laut dan penanganan darurat.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu, Muh Rizal, menyatakan operasi berjalan sesuai prosedur dan menegaskan pentingnya koordinasi lintas lembaga.
“Tim kami fokus mengevakuasi korban secepat mungkin tanpa mengorbankan keselamatan penyelam,” ujar Rizal dalam konferensi pers.
Selama proses evakuasi, tim medis mencatat bahwa beberapa ABK mengalami hipotermia ringan dan luka lecet akibat terjatuh.
Semua yang selamat telah menerima perawatan awal, dan keluarga mereka dijamin mendapat dukungan psikologis.
Pada sore yang sama, oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi dengan mengatasnamakan Muh Rizal meminta uang bantuan.
Penipu tersebut menghubungi pemilik kapal melalui WhatsApp dan menuntut transfer sebesar Rp 40 juta, yang sebagian telah dibayarkan.
Pemilik kapal, Rifani, mengakui telah mentransfer Rp 25 juta sebelum menyadari penipuan dan melaporkan kejadian ke Basarnas.
Basarnas menegaskan tidak ada permintaan dana resmi dalam operasi SAR dan menasihati publik untuk verifikasi sebelum melakukan pembayaran.
Kasus penipuan ini menambah beban emosional bagi keluarga korban yang tengah menunggu kepastian nasib enam ABK yang hilang.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara berjanji akan meningkatkan standar keselamatan kapal penumpang dan memperketat pengawasan izin berlayar.
Selain itu, otoritas maritim berencana menambah pelatihan keselamatan khusus untuk kapal yang melayani rute pulau-pulau kecil.
Penyelidikan awal mengindikasikan kerusakan pada sekoci dan kebocoran mesin sebagai faktor utama tenggelamnya KM Nazila 05.
Analisis teknis masih berlangsung, dan laporan lengkap diharapkan akan dirilis dalam dua minggu ke depan.
Sementara itu, keluarga korban dan masyarakat setempat menunggu kabar resmi tentang nasib enam ABK yang belum ditemukan.
Kejadian ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan SAR serta perlunya transparansi dalam komunikasi antara otoritas dan publik.
Dengan 21 ABK selamat dan upaya pencarian terus berlangsung, harapan tetap tinggi agar semua yang hilang dapat segera ditemukan.
Pemerintah dan lembaga terkait berkomitmen memberikan bantuan penuh kepada keluarga korban serta menindak tegas pelaku penipuan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan