Media Kampung – 29 Maret 2026 | Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, masih berjuang memulihkan diri setelah banjir bandang pada November 2025 yang menelan ribuan rumah dan menimbulkan luka yang belum sepenuhnya kering.
Meski tanah masih berdebu dan jejak air mengering, suara takbir yang bergema setiap malam Idul Fitri menandakan semangat warga untuk tetap melanjutkan ibadah.
Warga penyintas, seperti Kepala Dusun Ranto Panyang Rubek, menyiapkan hidangan lebaran di antara puing‑puing, sambil menyalakan kembang api sebagai tanda syukur.
Para relawan yang datang membawa makanan, peralatan kebersihan, dan semangat baru, membantu menciptakan suasana yang lebih manusiawi di tengah kehancuran.
Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, mengingatkan bahwa kembali ke rutinitas setelah Lebaran dapat memicu post‑holiday blues, terutama bagi mereka yang baru saja mengalami bencana.
Menurut survei World Travel & Tourism Council 2023, 41 persen pemudik Indonesia melaporkan gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang setelah pulang.
Data Kementerian Perhubungan mencatat lebih dari 120 juta perjalanan mudik pada Lebaran 2026, menambah beban psikologis bagi mereka yang kembali ke wilayah terdampak.
Pambudi menekankan pentingnya penyesuaian diri, menyarankan agar pekerja tidak langsung memaksakan diri bekerja pada hari pertama dan memberi waktu satu hingga dua hari untuk beradaptasi.
Ia menambahkan pola makan teratur, tidur cukup, dan olahraga ringan seperti jalan santai atau yoga dapat membantu mengembalikan energi dan mengurangi stres.
Komunikasi dengan keluarga dan sahabat di kampung halaman juga dianggap penting untuk mengatasi rasa kesepian yang muncul setelah Lebaran.
Di Sijudo, tradisi meugang, yaitu penyembelihan sapi untuk konsumsi bersama, tetap dilaksanakan meskipun sumber daya terbatas, menegaskan nilai kebersamaan dalam menghadapi kesulitan.
Para penyintas juga berpartisipasi dalam ziarah makam, menyalakan takbir bersama, yang menjadi bentuk doa kolektif untuk pemulihan desa.
Gema takbir yang terdengar di antara deru angin malam menegaskan bahwa harapan tetap hidup, meski realitas pasca‑bencana dan pasca‑lebaran menuntut adaptasi mental dan fisik.
Upaya pemerintah dan organisasi non‑pemerintah terus berlanjut untuk memperbaiki infrastruktur, menyediakan bantuan sosial, dan menguatkan layanan kesehatan mental di wilayah terdampak.
Dengan semangat gotong‑royong dan dukungan psikologis, warga Sijudo berusaha mengubah luka menjadi cerita ketahanan yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi bencana serupa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan