Media Kampung – 21 Maret 2026 | Lebaran di Huntara Kapalo Koto dilanda keheningan setelah banjir Tapteng yang mengalirkan toples kue Lebaran, memicu trauma warga.
Banjir Tapteng melanda desa pada akhir Ramadan, menggenangi rumah-rumah, termasuk rumah Sulianti, yang menyimpan tradisi menaruh kue dalam toples besar.
Sulianti, warga berusia 68 tahun, mengingat kembali kebiasaan mengisi toples kue kering dan manisan sebagai simbol kebersamaan sebelum banjir.
Saat air naik, toples itu terbawa arus, menghilang bersama kenangan Lebaran yang biasanya diiringi takbir keras.
Warga lain melaporkan bahwa gema takbir yang biasanya mengisi udara berubah menjadi sunyi, karena trauma kehilangan barang berharga dan rasa aman.
Kepala Desa, H. Rizal, menyatakan bahwa upaya pemulihan sedang berjalan, namun proses rehabilitasi memakan waktu dan memerlukan bantuan eksternal.
Pemerintah Kabupaten menyiapkan bantuan logistik, termasuk paket sembako dan perbaikan infrastruktur jalan yang rusak akibat banjir.
Sulianti menambahkan bahwa meskipun toples kue hilang, semangat Lebaran tetap dipertahankan lewat doa bersama di lapangan desa.
Observasi tim relawan menunjukkan bahwa sebagian besar rumah sudah kembali dapat dihuni, namun rasa trauma masih terasa pada malam takbiran.
Lebaran tahun ini diperingati secara sederhana, dengan takbiran yang lebih pelan dan harapan agar banjir tidak kembali mengulang sejarah kelam.
Kondisi di Huntara Kapalo Koto menunjukkan bagaimana bencana alam dapat mengubah tradisi, namun ketahanan masyarakat tetap menjadi pijakan utama pemulihan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








