Media Kampung – Ancaman hujan mendadak saat proses penjemuran padi sering merugikan petani. Hal ini yang menginisiasi Jocelyn Cheryl Setiobudi, seorang remaja putri asal Kediri, Jawa Timur, untuk menciptakan platform prakiraan cuaca berbasis keputusan bernama Jemuralert.com.
Aplikasi ini dirancang untuk memberikan rekomendasi waktu presisi bagi petani dalam menentukan jam mulai menjemur hingga waktu terbaik mengamankan gabah sebelum hujan turun. Jocelyn menjelaskan bahwa petani seringkali membutuhkan petunjuk teknis yang cepat dan langsung ketimbang sekadar data angka cuaca yang rumit. “Seringkali yang dibutuhkan petani bukan data angka, tapi keputusan yang bisa langsung diambil. Kalau tahu jam berapa hujan turun, kerugian bisa dihindari,” ungkapnya.
Fitur Jemuralert.com
Melalui Jemuralert.com, petani cukup menentukan lokasi, tanggal, serta jenis aktivitas seperti “Jemur Padi”. Sistem ini mengolah data prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan menyajikan rincian cuaca per jam serta memberikan notifikasi rekomendasi waktu yang spesifik. Selain itu, fitur aplikasi ini juga memungkinkan pemantauan beberapa lahan pertanian sekaligus dalam satu tampilan.
Inisiatif dari Riset
Ibu dari Jocelyn, Afriana Tanri Sudarno, mengungkapkan bahwa pengembangan aplikasi ini berawal dari riset efisiensi pengeringan padi. Ia menyadari bahwa mayoritas petani masih mengandalkan penjemuran alami tanpa perencanaan cuaca yang matang, berbeda dengan industri besar yang sudah menggunakan mesin pengering modern. “Kami melihat banyak petani menjemur padi tanpa perencanaan. Tiba-tiba hujan turun, padi basah, bahkan bisa retak jika terkena hujan setelah panas terik. Itu yang mendorong kami membuat solusi sederhana,” kata Afriana saat acara pengenalan aplikasi Jemuralert.com kepada sejumlah petani.
Inovasi Lainnya
Jocelyn tidak sendiri dalam inovasi ini. Sang adik, Michelle Setiobudi, yang berusia 16 tahun, juga mengembangkan aplikasi bernama Truckpool. Platform digital ini berfungsi mengefisiensikan biaya logistik angkut gabah dengan mengelompokkan muatan petani yang berada dalam rute dan radius penjemputan searah (sekitar 3 kilometer). Sistem pengangkutan terpadu ini memungkinkan tarif angkut menjadi lebih murah seiring terpenuhinya kapasitas truk.
Saat ini, kedua siswi penerima beasiswa prestasi di Singapura tersebut terus melakukan penyempurnaan platform. Jemuralert.com telah memasuki tahap uji coba pada kelompok tani di wilayah Kabupaten Kediri, Jombang, dan Ngawi. Di masa mendatang, platform ini ditargetkan dapat diakses secara lebih luas dan gratis oleh masyarakat umum.
(Foto Istimewa)












