Media Kampung – 22 Maret 2026 | Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Bondowoso pada Sabtu sore, 21 Maret 2026, memicu dua bencana alam sekaligus di Desa Kupang.

Air sungai meluap menenggelamkan jalan utama, memutus akses ke beberapa dusun dan merendam rumah-rumah penduduk di pinggiran desa.

Beberapa menit setelah banjir, lereng bukit barat desa runtuh, menimbulkan longsor yang menutup jalan masuk ke pusat kegiatan ekonomi.

Kondisi jalan yang terpotong menghambat upaya bantuan darurat, sehingga warga harus menempuh rute alternatif yang lebih panjang dan berbahaya.

Pemerintah daerah melaporkan bahwa lebih dari 150 rumah mengalami kerusakan struktural akibat air dan tanah yang menutupi atap serta dinding.

Tim SAR setempat bersama relawan lokal berhasil mengevakuasi 78 keluarga yang terperangkap di area terdampak.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar warga masih menunggu pasokan makanan dan perlengkapan kebersihan.

Pemerintah Kabupaten mengerahkan mobil bak, pompa air, dan peralatan berat untuk memulihkan jalan serta mengeringkan lahan yang tergenang.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso menilai bahwa potensi bahaya tanah longsor tetap tinggi karena kondisi tanah yang jenuh air.

BPBD juga mengimbau warga untuk menjauh dari zona longsor dan tidak mencoba menyeberangi jalan yang telah runtuh.

Sejumlah rumah di kawasan selatan desa mengalami kerusakan total, sementara rumah di zona tengah hanya mengalami kerusakan parsial pada dinding luar.

Kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, dengan estimasi kebutuhan pemulihan jangka pendek sekitar 2,5 miliar rupiah.

Gubernur Jawa Timur, Ahmad Yusuf, menyatakan kesiapan pemerintah provinsi untuk menyalurkan bantuan dana dan logistik ke Bondokoso.

Ia menambahkan bahwa koordinasi lintas sektor akan dipercepat guna mempercepat proses rehabilitasi infrastruktur dasar.

Para ahli geologi dari Universitas Jember menegaskan bahwa curah hujan yang melebihi ambang batas dapat memicu tanah longsor pada area dengan kemiringan tinggi.

Mereka merekomendasikan penanaman kembali vegetasi penahan erosi sebagai langkah jangka panjang.

Sementara itu, pihak kepolisian setempat meningkatkan patroli di daerah rawan longsor untuk mencegah kecelakaan lebih lanjut.

Warga yang kehilangan akses ke pasar utama kini harus mengirimkan barang dagangan melalui jalur alternatif yang memakan waktu hingga dua jam.

Dengan upaya bersama antara pemerintah, lembaga bantuan, dan masyarakat, diharapkan infrastruktur desa dapat pulih dalam beberapa minggu ke depan.

Situasi saat ini masih memerlukan perhatian intensif, terutama dalam penyediaan kebutuhan pokok dan pemulihan jalan utama.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.