Media Kampung – 03 April 2026 | Krisis hubungan antara Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, dan Wakil Wali Kota Elim Tyu Samba semakin menonjol pada peringatan Hari Jadi ke‑120 Kota Blitar, Kamis (2 April). Kehadiran resmi keduanya dijadwalkan dalam serangkaian acara seremonial.

Namun, Wakil Wali Kota tidak muncul pada apel utama yang disiarkan secara langsung, memicu spekulasi publik tentang penyebab ketidakhadirannya. Pihak kepolisian tidak terlibat, melainkan menjadi urusan politik lokal.

Wali Kota Syauqul segera menanggapi isu tersebut dengan menyatakan bahwa stafnya telah menelusuri agenda wakilnya. “Saya sudah minta staf untuk mengecek, informasinya beliau ada kegiatan di luar kota sejak hari Senin,” ujarnya pada Jumat (3 April).

Walaupun demikian, sang mayor mengakui bahwa ia belum memperoleh rincian lengkap tentang kegiatan luar kota tersebut. “Untuk detail kegiatannya saya kurang memahami,” tambahnya.

Wali Kota menegaskan bahwa kehadiran dalam acara resmi memang menjadi bagian penting dari protokol pemerintah, namun tidak semua kegiatan bersifat wajib. “Kalau kegiatan yang sifatnya umum seperti car free day memang tidak menggunakan undangan. Siapa saja boleh hadir,” katanya.

Di sisi lain, hubungan antara Ibin (singkatan dari Syauqul) dan Elim sebelumnya pernah mengalami ketegangan, terutama pada masa mutasi jabatan beberapa bulan lalu. Isu tersebut sempat menjadi sorotan media lokal pada akhir tahun lalu.

Kemunculan kembali spekulasi pada hari peringatan menambah tekanan politik bagi kedua pemimpin. Beberapa pengamat menilai bahwa absennya Wakil Wali Kota dapat menjadi sinyal perselisihan internal.

Namun hingga kini, tidak ada pernyataan resmi yang mengaitkan ketidakhadiran dengan konflik pribadi atau masalah administratif. Pemerintah kota menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai dinamika internal.

Pengamat politik lokal menilai bahwa penjelasan mayor tentang agenda luar kota dapat menjadi upaya meredam rumor. Mereka menekankan pentingnya transparansi untuk menjaga kepercayaan publik.

Sejumlah warga yang menghadiri apel menyatakan kekecewaan atas ketidakhadiran wakilnya, mengingat peranannya dalam mempromosikan program sosial kota. Beberapa menilai bahwa kehadiran kedua pemimpin akan memperkuat simbol kebersamaan.

Di sisi lain, aktivis masyarakat menyarankan agar pemerintah kota lebih terbuka dalam menyampaikan jadwal pejabat publik. Mereka menekankan bahwa keterbukaan dapat mencegah spekulasi yang tidak berdasar.

Pihak kepolisian dan lembaga pengawas tidak menerima laporan pengaduan terkait penyalahgunaan jabatan atau pelanggaran prosedur. Semua pihak menunggu klarifikasi resmi selanjutnya.

Sebagai penutup, peringatan Hari Jadi ke‑120 tetap dilaksanakan dengan rangkaian acara budaya, olahraga, dan pameran ekonomi yang melibatkan ribuan peserta. Pemerintah kota berkomitmen melanjutkan program pembangunan meski terdapat dinamika politik internal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika hubungan Ibin-Elim belum berakhir, namun agenda pembangunan kota tetap menjadi prioritas utama bagi administrasi saat ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.