Media Kampung – 11 April 2026 | Kenaikan harga plastik pada awal April 2026 menambah beban produksi bagi pelaku UMKM jamur tiram di Banyuwangi.

Mia, 53 tahun, petani jamur tiram di desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, melaporkan bahwa biaya plastik untuk satu siklus budidaya naik hampir dua kali lipat.

Sebelumnya ia menghabiskan sekitar satu setengah juta rupiah untuk plastik pembungkus media tanam, kini angka itu mencapai tiga juta rupiah dengan volume yang sama.

Plastik berfungsi sebagai pembungkus baglog, tempat benih jamur tumbuh sebelum dipanen, sehingga peranannya tidak dapat digantikan oleh bahan lain.

Kenaikan mendadak ini menurunkan margin keuntungan, karena harga jual jamur tiram di pasar tetap stabil.

Jika harga jual dinaikkan, produsen khawatir kehilangan konsumen mengingat kondisi ekonomi rumah tangga yang masih lemah.

Mia menegaskan bahwa penurunan laba dapat memaksa sebagian UMKM menutup operasi atau mengurangi skala produksi.

Pengusaha kecil lain di wilayah sekitarnya melaporkan situasi serupa, mengindikasikan tren kenaikan harga plastik yang meluas.

Kenaikan harga plastik dipicu oleh kombinasi faktor global, termasuk kenaikan biaya minyak mentah dan kebijakan pemerintah tentang pajak bahan baku plastik.

Pasokan plastik domestik juga mengalami tekanan karena terbatasnya kapasitas pabrik dan peningkatan permintaan sektor lain, seperti kemasan makanan.

Akibatnya, distributor plastik menaikkan harga jual ke petani dan pelaku industri kecil secara signifikan.

Mia mengaku bahwa tanpa intervensi kebijakan, beban biaya produksi dapat mengancam kelangsungan usahanya.

Ia berharap pemerintah daerah dan pusat dapat menurunkan tarif pajak atau menyediakan subsidi plastik bagi sektor pertanian.

Beberapa pihak menyarankan penggunaan alternatif bahan pembungkus yang lebih ramah lingkungan, namun biaya awalnya masih lebih tinggi.

Selain itu, infrastruktur daur ulang plastik di Banyuwangi masih terbatas, sehingga solusi jangka pendek sulit diimplementasikan.

Kementerian Perindustrian telah mengumumkan rencana penambahan kapasitas produksi plastik dalam tiga tahun ke depan, namun manfaatnya belum terasa.

Para ahli ekonomi menilai bahwa fluktuasi harga bahan baku dapat menurunkan daya saing UMKM jika tidak diimbangi kebijakan penstabil.

Mereka menyarankan pembentukan mekanisme buffer harga atau kontrak jangka panjang antara produsen plastik dan pengguna akhir.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyatakan akan memantau situasi dan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi.

Sementara itu, Mia berusaha mengoptimalkan penggunaan plastik dengan mengurangi limbah dan menata ulang proses pembibitan.

Ia juga menjajaki kerja sama dengan petani lain untuk melakukan pembelian plastik secara kolektif demi menurunkan harga satuan.

Langkah kolektif ini diharapkan dapat meningkatkan daya tawar UMKM di pasar bahan baku.

Namun, tanpa dukungan kebijakan yang jelas, upaya tersebut tetap terbatas pada skala kecil.

Pengamat pasar menekankan pentingnya diversifikasi bahan baku agar ketergantungan pada plastik tidak menimbulkan risiko tinggi.

Alternatif seperti serat kelapa atau bahan organik lain sedang diuji coba, meski masih memerlukan riset lanjutan.

Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik menambah tekanan pada sektor agribisnis mikro, khususnya budidaya jamur tiram.

Jika tidak ditangani, dampaknya dapat meluas ke rantai pasok makanan, mengurangi pasokan jamur tiram lokal.

Pemerintah diharapkan dapat memberikan kebijakan harga stabil atau subsidi khusus untuk menjaga kelangsungan produksi.

Dengan langkah tepat, UMKM seperti yang dikelola Mia dapat tetap beroperasi dan berkontribusi pada perekonomian daerah.

Situasi ini mencerminkan tantangan struktural yang dihadapi pelaku usaha kecil dalam menghadapi volatilitas harga bahan baku global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.