Media Kampung – 04 April 2026 | Warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi kembali menggelar tradisi Lebaran Kopat pada Jumat malam, 28 Maret 2026, tepat pada hari ke-7 Syawal.

Acara tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.

Masyarakat menyiapkan ketupat dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan tamu yang hadir.

Beberapa keluarga memilih mengadakan jamuan di teras rumah, menciptakan suasana akrab dan penuh kehangatan.

Inti perayaan dimulai setelah shalat Magrib dengan penyajian ketupat, sayur, dan lauk tradisional yang dinikmati bersama.

Makanan disajikan sekaligus menjadi sarana silaturahmi antarwarga, memperkuat jaringan sosial di lingkungan Boyolangu.

Anak-anak hadir mengenakan pakaian khas Lebaran, menambah keceriaan suasana kampung.

Di beberapa sudut lapangan, warga saling berbincang sebelum doa bersama dimulai, menandai dimulainya kegiatan keagamaan.

Doa kolektif diakhiri dengan konsumsi hidangan yang telah disiapkan sejak siang hari, menandai keberhasilan persiapan.

Setelah shalat Isya, remaja Boyolangu mempersembahkan tarian tradisional banyuwangi sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.

Penampilan seni tersebut mendapat sambutan hangat dan menjadi penutup rangkaian acara pada hari pertama.

Ketua panitia, Risyal Alfani, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program Boyolangu Traditional Culture yang berkelanjutan.

Alfani menambahkan, “Kami bersyukur bisa kembali berkumpul dalam Boyolangu Traditional Culture. Kami bangga karena masyarakat Boyolangu masih peduli terhadap pelestarian budaya lokal,”.

Sebelum tradisi makan ketupat, warga melaksanakan khotmil Qur’an di balai kelurahan sebagai persiapan spiritual.

Khotmil tersebut diikuti oleh ziarah ke petilasan Ki Buyut Jaksa, tokoh yang dihormati dalam sejarah lokal.

Kunjungan ke makam Ki Buyut Jaksa dianggap sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan doa bagi keselamatan komunitas.

Rangkaian Boyolangu Traditional Culture dijadwalkan berlangsung selama empat hari, dimulai dari 7 Syawal hingga 10 Syawal.

Hari kedua, 8 Syawal, menampilkan pertunjukan seni budaya dan barong lokal yang melibatkan seniman daerah.

Hari ketiga, 9 Syawal, diisi dengan pawai kebo-keboan yang menampilkan kerbau hias sebagai simbol kekuatan pertanian.

Puncak perayaan pada 10 Syawal menampilkan tradisi Puter Kayun, kompetisi memutar kayu tradisional yang melibatkan seluruh lapisan usia.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan aktif dari pemerintah kecamatan dan dinas kebudayaan setempat, memperkuat legitimasi program budaya.

Pendanaan sebagian besar berasal dari sumbangan warga serta sponsor lokal, menunjukkan partisipasi ekonomi komunitas.

Observasi lapangan menunjukkan bahwa tradisi makan ketupat tidak hanya melestarikan kuliner, namun juga menumbuhkan rasa kebersamaan antargenerasi.

Para peneliti budaya setempat mencatat bahwa praktik ini memperkuat identitas lokal di tengah arus modernisasi.

Masyarakat berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan dan menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Banyuwangi.

Dengan keberhasilan acara tahun ini, Boyolangu menegaskan komitmen untuk menjaga warisan budaya sekaligus mempererat solidaritas sosial.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.