Media Kampung – 04 April 2026 | Arus balik Lebaran 2026 di lintas penyeberangan Ketapang‑Gilimanuk mencapai puncak pada Minggu, 29 Maret 2026. Ribuan kendaraan, terutama sepeda motor dan mobil, menempati area pelabuhan sejak pagi.
Kondisi kepadatan tersebut mendorong Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur (Wakapolda Jatim) Brigjen Pasma Royce bersama Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono melakukan pemantauan langsung di Pelabuhan ASDP Ketapang.
Pemantauan dilakukan secara udara menggunakan helikopter, kemudian dilanjutkan dengan rapat koordinasi di kantor cabang ASDP Indonesia Ferry Ketapang bersama perwakilan pemerintah Kabupaten dan pemangku kepentingan penyeberangan.
Wakapolda menegaskan tujuan utama pemantauan adalah mengantisipasi lonjakan kendaraan, khususnya arus balik dari Jawa ke Bali, agar tidak menimbulkan kemacetan di jalur utama.
Wakil Bupati menambahkan bahwa hingga saat itu arus balik masih berada dalam batas terkendali, dengan zona penyangga di Bulusan, Pusri, dan Terminal Sritanjung belum terisi penuh.
Koordinasi selanjutnya mencakup penyesuaian jadwal kapal dan penerapan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB) yang telah diinstruksikan oleh pihak kepolisian.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko, menyatakan operasional penyeberangan berjalan sesuai skenario pengendalian arus balik Lebaran 2026.
Dia menjelaskan bahwa sebanyak 33 kapal beroperasi pada saat itu, dengan skema TBB diterapkan di dermaga MB IV (empat kapal), dermaga LCM (sebelas kapal), dan dermaga Bulusan (tiga kapal).
Data ASDP menunjukkan bahwa puncak arus balik diperkirakan terjadi pada Sabtu dan Minggu, 28‑29 Maret, dan hingga kini sekitar 52 persen kendaraan telah berhasil menyeberang ke Bali.
Sisa 48 persen kendaraan masih menunggu, angka ini meningkat 4‑6 persen dibandingkan tahun lalu, menandakan peningkatan volume pemudik.
Meskipun puncak arus balik telah selesai, ASDP memutuskan memperpanjang masa siaga hingga 5 April untuk mengantisipasi kendaraan yang belum kembali ke Bali.
Keputusan perpanjangan masa siaga dipengaruhi oleh libur nasional pada 3 April, yang diperkirakan akan menambah jumlah kendaraan yang menunggu penyeberangan.
Selama masa siaga, posko Lebaran tetap beroperasi, menyediakan layanan informasi, keamanan, dan penanganan darurat bagi pemudik.
Pihak kepolisian turut menambah patroli di area pelabuhan dan jalur akses utama guna menjaga ketertiban serta mencegah potensi kerusuhan.
Wakapolda menegaskan bahwa setiap pelanggaran lalu lintas atau tindakan mengganggu ketertiban akan ditindak tegas sesuai prosedur.
Selain pengaturan kapal, pihak ASDP juga mengoptimalkan penggunaan dermaga tambahan di kawasan Bulusan untuk menampung kapal tambahan bila diperlukan.
Koordinasi antara pemerintah kabupaten, kepolisian, dan ASDP dianggap krusial dalam menyeimbangkan kebutuhan transportasi dengan keamanan publik.
Masyarakat pemudik melaporkan bahwa antrean kendaraan di jalur arteri menuju pelabuhan cukup panjang, namun tidak mengalami kemacetan total berkat pengaturan yang diterapkan.
Beberapa pengendara menyatakan kepuasan atas kehadiran petugas keamanan yang membantu mengarahkan lalu lintas dan memberikan informasi terkait jadwal kapal.
Penggunaan skema TBB terbukti mempercepat proses bongkar muat kendaraan, sehingga mengurangi waktu tunggu di dermaga.
Dengan pemantauan intensif, koordinasi lintas sektor, dan perpanjangan masa siaga, pihak berwenang berharap arus balik Lebaran 2026 dapat selesai dengan lancar dan aman.
Secara keseluruhan, pemantauan bersama Polda Jatim, Pemkab Banyuwangi, dan ASDP berhasil menjaga kelancaran penyeberangan di Ketapang, sekaligus memastikan keamanan dan ketertiban selama periode puncak arus balik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan