Media Kampung – 04 April 2026 | Pasca pembukaan kembali jalur truk tiga sumbu ke atas, arus kendaraan logistik di Pelabuhan Ketapang melonjak signifikan, memicu antrean panjang.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) segera melakukan penyesuaian operasi dengan merombak skema layanan, meningkatkan ritme kapal, dan memperkuat koordinasi lintas sektor.

Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, mengakui adanya ketidaknyamanan bagi pengguna jasa, namun menegaskan penanganan sedang dilakukan secara masif.

Ia menekankan fokus utama saat ini adalah mempercepat penguraian antrean dan mengembalikan layanan ke kondisi normal.

Strategi utama di dalam pelabuhan meliputi pemisahan alur kendaraan; Dermaga 1, 2, dan 3 difokuskan untuk penumpang, sedangkan Dermaga 4 dan kapal LCM khusus untuk kendaraan logistik.

Baca juga:

Pemisahan ini menghasilkan pola muatan yang lebih teratur, mengurangi konflik antrean, dan mempercepat proses bongkar muat.

General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko, menambahkan bahwa percepatan layanan juga didukung oleh optimalisasi armada kapal dan penurunan turn‑around time.

Dengan pola layanan yang lebih terarah, antrean dapat ditekan secara bertahap.

Di luar pelabuhan, sebanyak 365 personel TNI lintas matra dikerahkan untuk mengatur arus kendaraan menuju gerbang masuk.

Kehadiran aparat militer dianggap penting dalam menjaga kelancaran dan ketertiban di lapangan.

Area Pusri kini difungsikan sebagai penampung khusus bagi sekitar 150 truk tiga sumbu, sementara zona penyangga Bulusan mampu menampung hingga 600 kendaraan logistik campuran.

Skema penyangga ini mencegah penumpukan kendaraan di dalam kawasan pelabuhan.

Meski antrean masih terlihat, kendaraan dari arah utara pada Jumat pagi tercatat mengular hingga kawasan Parasputih, sekitar 7 kilometer dari pintu masuk pelabuhan.

Dominasi truk logistik di jalur tersebut tetap menjadi tantangan utama.

Namun, waktu tempuh dari pintu masuk hingga naik kapal tetap berada pada rentang 20 hingga 35 menit.

Data Posko Ketapang mencatat 47.961 penumpang menyeberang dari Jawa ke Bali dalam 24 jam pada hari ke‑10, naik 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga:

Secara kumulatif sejak hari ke‑10 sebelum dan sesudah, total penumpang mencapai 761.391 orang serta lebih dari 201 ribu kendaraan.

Angka tersebut menggarisbawahi tingginya mobilitas serta tekanan distribusi logistik pada lintasan Jawa‑Bali.

Windy Andale mengingatkan pengguna jalan untuk tetap disiplin dan tidak melawan arus, karena perilaku tersebut dapat memperparah kemacetan.

Ia menegaskan bahwa kelancaran bukan hanya hasil sistem, tetapi juga kepatuhan di lapangan.

Operasional yang dipercepat juga melibatkan peningkatan frekuensi keberangkatan kapal penumpang dan kapal barang.

Tim operasional ASDP menyesuaikan jadwal keberangkatan sesuai dengan volume kendaraan yang masuk.

Koordinasi dengan otoritas kepolisian, pemerintah daerah, dan operator logistik dilakukan secara intensif setiap hari.

Penggunaan teknologi monitoring lalu lintas di jalur akses utama membantu mengidentifikasi titik kemacetan secara real time.

Informasi tersebut kemudian disalurkan ke petugas lapangan untuk penyesuaian arah alur kendaraan.

Selain penataan fisik, ASDP juga mengoptimalkan prosedur administrasi, mempercepat proses verifikasi dokumen muatan.

Pengurangan waktu tunggu administratif berkontribusi pada penurunan total waktu antrian.

Baca juga:

Seluruh langkah ini diharapkan dapat menstabilkan arus logistik dan mengembalikan tingkat layanan ke standar operasional normal.

Pengawasan terus dilakukan untuk memastikan tidak terjadi penumpukan kembali di masa mendatang.

Dengan upaya terintegrasi antara pihak operator, militer, dan stakeholder terkait, Pelabuhan Ketapang berada pada jalur pemulihan yang lebih baik.

Ke depan, ASDP berkomitmen untuk terus memantau perkembangan dan menyesuaikan kebijakan operasional sesuai kebutuhan.

Kondisi saat ini menunjukkan perbaikan signifikan, meskipun tantangan logistik tetap tinggi pada jalur strategis Jawa‑Bali.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.