Media Kampung – 02 April 2026 | TNI Angkatan Laut melalui Lanal Banyuwangi menurunkan 130 personel untuk membantu mengurai kemacetan arus balik di Pelabuhan Ketapang.
Operasi dipimpin langsung oleh Danlanal Letkol Laut (P) Muhamad Puji Santoso, M.Sc., pada Rabu 1 April 2026.
Kemacetan memanjang sekitar 16 kilometer ke arah utara pelabuhan, dipicu lonjakan volume kendaraan pasca Lebaran.
Personel disebar di titik‑titik rawan untuk memastikan alur kendaraan tetap bergerak.
Mereka juga memanfaatkan zona penyangga sementara sebagai area parkir dan istirahat pengendara.
Koordinasi intensif dilakukan bersama ASDP Ketapang, BPTD, Dinas Perhubungan, KSOP Banyuwangi, dan Gapasdap.
Upaya bersama ini bertujuan menjaga kelancaran arus kendaraan yang melintasi jalur Jawa‑Bali serta Mataram.
Selain 130 personel Lanal, sekitar 75 anggota Puslatpur 7 Lampon dan Puslatpur 5 Baluran turut serta.
Pasukan gabungan dijadwalkan bertugas selama tujuh hari dengan kemungkinan perpanjangan.
Penyebab utama kemacetan adalah masuknya kembali kendaraan logistik besar setelah pembatasan libur Lebaran.
Selama Lebaran, pergerakan barang dibatasi; setelah pembatasan dicabut, truk‑truk kembali beroperasi dan menimbulkan kepadatan.
Pelabuhan Ketapang merupakan pintu gerbang utama feri yang menghubungkan Jawa dan Bali, sehingga menjadi titik krusial.
Arus balik yang padat sering mengakibatkan kemacetan meluas ke jalan nasional di sekitarnya.
Pihak berwenang melaporkan ribuan penumpang dan kargo mengalami penundaan akibat situasi ini.
Keterlibatan TNI AL mencerminkan mandat militer untuk mendukung otoritas sipil dalam situasi darurat.
Mobilisasi cepat unit angkatan laut menunjukkan kemampuan logistik dan kerja sama antar‑lembaga.
Warga setempat menyatakan rasa lega atas kehadiran personel yang mengatur lalu lintas.
Pengemudi melaporkan bahwa keberadaan personel berseragam mengurangi kebingungan di titik‑titik macet.
Zona penyangga memungkinkan truk menunggu dengan aman tanpa menghalangi jalur utama.
Operasi juga mencakup panduan lalu lintas, inspeksi kendaraan, dan bantuan bagi yang mengalami kerusakan.
Kerjasama dengan ASDP memastikan penyesuaian jadwal feri sejalan dengan jalur yang telah dibersihkan.
Instansi transportasi lokal memantau situasi secara terus‑menerus dan menyampaikan informasi kepada publik.
Pengerahan personel sejalan dengan arahan Mabes TNI dan Mabes TNI AL.
Jika kondisi membaik sebelum masa tujuh hari selesai, personel dapat dipindahkan ke tugas lain.
Sebaliknya, kemacetan yang berlarut dapat memaksa perpanjangan misi di lapangan.
Langkah ini menegaskan pentingnya menjaga kelancaran pergerakan antar‑pulau secara strategis.
Pihak berwenang memperkirakan langkah ini akan memendekkan panjang kemacetan dan mengembalikan kondisi normal dalam beberapa hari.
Respons terkoordinasi ini menunjukkan kemampuan militer dan sipil dalam menangani hambatan infrastruktur.
Pengemudi dihimbau mengikuti arahan dan memanfaatkan area istirahat yang telah disiapkan untuk menghindari penumpukan kembali.
Insiden ini menyoroti kebutuhan solusi jangka panjang, seperti peningkatan kapasitas feri atau pengembangan rute alternatif.
Sementara itu, kehadiran TNI AL berperan sebagai solusi sementara yang efektif.
Situasi terus dipantau, dan pembaruan selanjutnya akan disampaikan seiring perkembangan kondisi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan