Media Kampung – 03 April 2026 | Trump menegaskan bahwa kebijakan nuklir yang diadopsi pada era Obama menjadi penyebab utama ketegangan dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Reuters pada 1 April 2026.

Sikap presiden menolak kekhawatiran terkait 970 pon uranium yang telah diperkaya hampir setara senjata nuklir, menyatakan bahwa bahan tersebut tidak lagi menjadi ancaman. Ia menambah bahwa pemantauan terus dilakukan melalui satelit.

Sikap tersebut kontras dengan posisi Trump selama lebih dari satu dekade, ketika ia mengkritik kuat perjanjian 2015 sebagai celah bagi Tehran. Pada 2018 ia memutuskan AS keluar dari perjanjian dan menegaskan Iran tetap berada di ambang “terobosan nuklir”.

Pada Juni 2025, Trump memerintahkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, yakni Natanz, Fordo, dan Isfahan, untuk menghentikan upaya pengayaan hingga 90 persen. Serangan itu dimaksudkan menutup kemungkinan Iran mengubah uranium menjadi bahan bakar senjata.

Meskipun serangan tersebut menimbulkan kerusakan pada instalasi Natanz, satelit menampilkan jejak radiasi yang masih menunjukkan aktivitas pengayaan. Namun Trump menilai bahwa kedalaman lokasi penyimpanan uranium membuatnya tidak dapat diakses untuk pembuatan senjata.

Dalam wawancara, Trump menyatakan, “Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir karena mereka tidak mampu melakukannya sekarang.” Ia menegaskan bahwa Amerika akan terus mengawasi secara real time.

Pengamat internasional memperingatkan bahwa penurunan tingkat ancaman tidak sejalan dengan data badan pengawas IAEA. Badan tersebut mencatat bahwa persediaan uranium cukup untuk menghasilkan sepuluh hingga dua belas bom nuklir.

Kritikus menilai perubahan sikap Trump sebagai upaya meredam ketegangan politik domestik menjelang pemilihan presiden berikutnya. Mereka menyebutkan bahwa narasi “masalah sudah selesai” dapat menurunkan tekanan pada Iran.

Pemerintah Iran menolak tuduhan bahwa mereka mendekati pembuatan senjata nuklir, menekankan komitmen pada perjanjian yang telah dimodifikasi. Tehran menambahkan bahwa setiap serangan akan memicu balasan militer.

Kebijakan nuklir Obama, yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), pada awalnya berhasil menurunkan tingkat pengayaan menjadi 3,67 persen. Trump mengklaim bahwa kebijakan tersebut justru memberi Iran ruang untuk mengembangkan kapasitas tersembunyi.

Sejumlah analis di Washington berpendapat bahwa kegagalan implementasi sanksi penuh pada era Obama memberi Iran peluang ekonomi untuk memperkuat program nuklir. Mereka mencontohkan peningkatan investasi dalam infrastruktur pengayaan setelah 2015.

Sementara itu, Pentagon tetap mengonfirmasi bahwa fasilitas yang diserang pada 2025 telah dipulihkan sebagian dan tidak lagi mampu meningkatkan pengayaan di atas 60 persen. Laporan tersebut mencatat bahwa AS masih memiliki kemampuan serangan presisi jika diperlukan.

Komunitas ilmiah internasional menekankan pentingnya inspeksi berkelanjutan untuk memastikan bahwa uranium tidak dialirkan ke jalur militer. Mereka meminta transparansi lebih besar dari kedua belah pihak.

Kebijakan terbaru Trump menimbulkan pertanyaan tentang arah strategi non-proliferasi Amerika ke depan. Jika Iran dipandang tidak lagi sebagai ancaman, fokus AS mungkin beralih ke wilayah lain di Timur Tengah.

Pada akhirnya, pernyataan Trump menegaskan bahwa pemerintahan AS kini melihat isu nuklir Iran sebagai masalah yang telah terselesaikan, meski bukti teknis masih menunjukkan potensi bahaya. Situasi ini menuntut dialog diplomatik yang lebih intensif untuk menghindari eskalasi di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.