Media Kampung – 07 April 2026 | Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadiem Makarim menandai kebijakan digitalisasi sekolah dengan menyiapkan program pengadaan Chromebook secara massal. Keputusan ini didasarkan pada hasil kajian internal kementerian.

Studi tersebut mencakup evaluasi terhadap perangkat keras yang telah digunakan di sejumlah sekolah pilot sejak 2022. Hasilnya mengindikasikan tingkat kepuasan guru dan siswa yang lebih tinggi dibandingkan laptop tradisional.

Selain itu, data penggunaan menunjukkan penurunan signifikan pada masalah malware dan kebocoran data. Faktor keamanan menjadi pertimbangan utama dalam rekomendasi pengadaan.

Pengadaan Chromebook diproyeksikan mencakup lebih dari tiga juta unit dalam tiga tahun ke depan. Anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 12 triliun, sesuai rencana anggaran tahunan 2024.

Anggaran tersebut akan dibagi antara pembelian perangkat, pelatihan tenaga pendidik, serta pengembangan infrastruktur jaringan. Pemerintah menargetkan kesiapan semua sekolah negeri di wilayah Indonesia pada akhir 2026.

Pemerintah menegaskan bahwa perangkat ini tidak hanya akan dipakai untuk kelas daring, tetapi juga mendukung pembelajaran blended. Model pembelajaran campuran dipandang sebagai langkah strategis pasca pandemi.

Dalam rapat koordinasi kementerian, Nadiem menekankan pentingnya ekosistem aplikasi edukatif yang terintegrasi dengan Chrome OS. Pengembangan konten lokal diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar.

Beberapa perusahaan teknologi domestik telah diajak untuk berkolaborasi dalam penyediaan aplikasi edukatif. Kerjasama ini mencakup pembuatan modul interaktif dan sumber belajar berbasis AI.

Para ahli pendidikan menilai bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kesiapan guru. Oleh karena itu, pelatihan intensif akan menjadi bagian tak terpisahkan dari implementasi.

Program pelatihan direncanakan melibatkan lebih dari 500 ribu guru dalam fase pertama. Materi pelatihan meliputi penggunaan perangkat, manajemen kelas digital, serta penilaian online.

Selain pelatihan, kementerian akan menyediakan layanan dukungan teknis 24 jam melalui pusat layanan nasional. Layanan ini bertujuan meminimalisir gangguan teknis selama proses belajar mengajar.

Pengadaan Chromebook juga dipandang sebagai langkah untuk menurunkan biaya operasional sekolah. Dengan perangkat yang hemat energi, sekolah dapat mengurangi beban listrik bulanan.

Studi internal memperkirakan penghematan hingga 30 persen dibandingkan penggunaan PC konvensional. Penghematan ini diharapkan dapat dialokasikan kembali untuk program pendidikan lainnya.

Beberapa daerah sudah menjadi contoh sukses implementasi awal. Misalnya, provinsi Jawa Barat melaporkan peningkatan rata-rata nilai ujian nasional setelah penggunaan Chromebook.

Di sisi lain, kritik muncul terkait ketergantungan pada satu merek perangkat. Beberapa pihak mengusulkan diversifikasi merek untuk mengurangi risiko monopoli.

Mujiono menanggapi kritik tersebut dengan menyatakan bahwa pilihan perangkat akan tetap bersifat kompetitif. Kriteria pemilihan mencakup harga, kualitas, serta layanan purna jual.

Pengadaan akan dilakukan melalui lelang terbuka yang melibatkan penyedia lokal dan internasional. Proses lelang diharapkan transparan dan akuntabel.

Kementerian juga menyiapkan mekanisme monitoring dan evaluasi berkala. Setiap tahunnya akan dilakukan audit penggunaan dan efektivitas pembelajaran.

Laporan audit pertama dijadwalkan pada akhir 2025. Hasil audit akan menjadi acuan perbaikan kebijakan selanjutnya.

Pengadaan Chromebook sejalan dengan program Transformasi Digital Nasional yang diluncurkan pada 2023. Program tersebut menargetkan 100 persen sekolah terhubung internet berkecepatan tinggi.

Untuk mendukung konektivitas, pemerintah mempercepat pembangunan jaringan serat optik di daerah terpencil. Inisiatif ini diharapkan menyelesaikan kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

Para pakar teknologi pendidikan menilai bahwa kombinasi perangkat keras modern dan jaringan stabil merupakan fondasi pembelajaran abad 21. Chromebook dipilih karena kemudahan manajemen dan pemeliharaannya.

Keputusan ini juga sejalan dengan tren global yang mengadopsi perangkat berbasis cloud di sektor pendidikan. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan telah melaporkan hasil positif.

Namun, implementasi di Indonesia tetap menghadapi tantangan geografis dan logistik. Distribusi perangkat ke wilayah kepulauan membutuhkan koordinasi yang matang.

Pemerintah berjanji akan melibatkan dinas pendidikan provinsi serta lembaga logistik nasional. Kerjasama ini diharapkan mempercepat penyebaran Chromebook ke setiap sekolah.

Selain fokus pada perangkat, kementerian menekankan pentingnya konten digital yang relevan dengan kurikulum nasional. Pengembangan materi akan melibatkan ahli kurikulum dan penulis konten.

Konten tersebut dirancang interaktif, berorientasi pada kompetensi, dan dapat diakses offline bila diperlukan. Hal ini penting untuk daerah dengan keterbatasan jaringan.

Para guru diharapkan dapat mengintegrasikan konten tersebut ke dalam rencana pelajaran harian. Dengan begitu, proses belajar menjadi lebih menarik dan berbasis proyek.

Secara keseluruhan, kebijakan pengadaan Chromebook mencerminkan tekad pemerintah memperkuat kualitas pendidikan melalui teknologi. Langkah ini diharapkan menghasilkan generasi yang lebih siap bersaing di era digital.

Pengawasan independen dari lembaga survei pendidikan juga akan dipertimbangkan untuk menilai dampak jangka panjang. Hasilnya akan menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan selanjutnya.

Dengan komitmen bersama antara pemerintah, guru, dan penyedia teknologi, target transformasi digital pendidikan dapat tercapai tepat waktu. Keberhasilan program ini akan menjadi model bagi negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.