Media Kampung – 07 April 2026 | PT Freeport Indonesia dan Universitas Cenderawasih (Uncen) menandatangani nota kesepahaman untuk membangun ekosistem pendidikan inklusif di Papua.
Kesepakatan mencakup program peningkatan infrastruktur sekolah, pelatihan guru, serta adaptasi kurikulum yang menyesuaikan kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
Kerjasama difokuskan pada wilayah Mimika, Timika, dan kabupaten sekitarnya yang memiliki angka partisipasi sekolah masih rendah.
Pihak Freeport menyiapkan dana awal sebesar Rp150 miliar selama tiga tahun untuk mendukung proyek tersebut.
Rector Uncen, Prof. Dr. Drs. H. D. Manalu, menegaskan bahwa inisiatif ini selaras dengan visi universitas untuk memperluas akses pendidikan berkualitas.
Direktur CSR Freeport Indonesia, Budi Santoso, menyatakan komitmen perusahaan untuk berkontribusi pada pembangunan sosial berkelanjutan.
Ia menambahkan bahwa program ini akan melibatkan karyawan perusahaan sebagai relawan pengajar dan mentor.
Tim teknis Uncen akan merancang modul pelatihan guru yang menitikberatkan pada metode pembelajaran diferensial.
Modul tersebut akan diuji coba di lima sekolah pilot selama enam bulan pertama.
Pihak Freeport menyediakan peralatan teknologi asistif, termasuk perangkat lunak pembaca layar dan perangkat bantu mobilitas.
Pengadaan alat tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa berkebutuhan khusus dalam proses belajar mengajar.
Selain itu, program ini mencakup beasiswa bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Beasiswa mencakup biaya pendidikan, perlengkapan belajar, dan tunjangan transportasi selama masa studi.
Kondisi pendidikan di Papua selama ini terhambat oleh keterbatasan fasilitas, kurangnya tenaga pengajar terlatih, dan tantangan geografis.
Data Kementerian Pendidikan menunjukkan tingkat buta huruf di Papua masih berada di atas rata-rata nasional.
Inisiatif ini juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Papua untuk memastikan sinkronisasi kebijakan.
Pemerintah daerah menilai proyek ini sebagai contoh model kemitraan publik-swasta yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Evaluasi independen akan dilakukan setiap tahun untuk mengukur dampak program terhadap peningkatan partisipasi sekolah dan kualitas pembelajaran.
Jika hasil evaluasi positif, kedua belah pihak berencana memperluas cakupan ke kabupaten lain di Papua pada tahun 2027.
Kerjasama ini menandai langkah konkret dalam upaya memperbaiki kualitas dan inklusivitas pendidikan di kawasan paling tertinggal di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan