Media Kampung – 06 April 2026 | Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, melakukan kunjungan ke TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 di Ngaliyan, Semarang, pada Senin pagi. Acara tersebut sekaligus menjadi peresmian fasilitas digital baru untuk anak usia dini.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya pendidikan prasekolah sebagai fondasi utama dalam program wajib belajar 13 tahun. Ia menyatakan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kualitas pendidikan di tingkat awal.

Fasilitas digital yang diperkenalkan meliputi tablet interaktif, aplikasi belajar berbasis kurikulum Muhammadiyah, dan ruang belajar berbasis teknologi. Alat‑alat tersebut dirancang untuk mendukung pembelajaran yang menyenangkan serta menumbuhkan rasa ingin tahu.

Abdul Mu’ti menambahkan bahwa integrasi teknologi di usia dini harus tetap sejalan dengan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan. Ia menekankan agar guru dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengurangi peran interaksi langsung antara pendidik dan anak.

Ia juga menyoroti peran orang tua dalam mengawal proses belajar di rumah. Dengan dukungan keluarga, penggunaan fasilitas digital dapat memperkuat proses belajar mengajar di kelas.

Pendidikan prasekolah di Indonesia masih menghadapi tantangan seperti kurangnya tenaga pendidik berkualitas dan fasilitas yang memadai. Pemerintah bersama lembaga keagamaan diharapkan dapat meningkatkan alokasi anggaran serta pelatihan guru.

Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa karakter anak terbentuk melalui kebiasaan sehari‑hari, seperti disiplin, kejujuran, dan rasa hormat. Oleh karena itu, kurikulum prasekolah harus menekankan pengembangan sikap positif selain kompetensi akademik.

Program wajib belajar 13 tahun yang diamanatkan pemerintah menargetkan semua anak Indonesia untuk bersekolah sampai kelas 12. Keberhasilan program tersebut, kata Abdul Mu’ti, memerlukan landasan yang kuat sejak usia balita.

Dia mencontohkan bahwa anak yang terbiasa belajar di lingkungan yang terstruktur akan lebih siap menghadapi tantangan pendidikan menengah. Sebaliknya, kekosongan pada tahap prasekolah dapat menyebabkan kesenjangan belajar di kemudian hari.

Di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31, guru-guru telah dilatih untuk mengintegrasikan metode bermain dengan pendekatan digital. Pelatihan ini mencakup penggunaan aplikasi edukatif yang menstimulasi kreativitas dan kolaborasi.

Abdul Mu’ti memuji upaya guru dalam mengimplementasikan model pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan anak. Ia menilai bahwa inovasi tersebut dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di wilayah Jawa Tengah.

Selain aspek teknologi, beliau menekankan pentingnya nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran. Karakter anak, menurutnya, harus dilandasi keimanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan karakter bukan tugas tunggal lembaga pendidikan, melainkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Komunitas, lembaga keagamaan, dan pemerintah harus bersinergi menciptakan lingkungan yang mendukung.

Abdul Mu’ti juga menyinggung pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap program prasekolah. Data hasil belajar serta observasi perkembangan sosial anak harus menjadi dasar perbaikan kurikulum.

Kunjungan tersebut dihadiri oleh kepala sekolah, guru, serta perwakilan orang tua murid. Semua pihak menyampaikan apresiasi atas fasilitas digital yang dihadirkan.

Beberapa orang tua mengaku antusias melihat anak mereka lebih aktif berinteraksi dengan materi pembelajaran. Mereka berharap fasilitas ini dapat terus dikembangkan dan dioptimalkan.

Pihak sekolah menyampaikan rencana pemeliharaan rutin serta pelatihan lanjutan bagi guru. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan keberlanjutan penggunaan teknologi dalam proses belajar.

Abdul Mu’ti menutup acara dengan mengajak semua pihak untuk menegakkan komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan prasekolah. Ia menegaskan bahwa masa depan generasi bangsa sangat bergantung pada investasi di usia dini.

Secara umum, kunjungan ini menandai langkah konkret Muhammadiyah dalam memperkuat fondasi pendidikan anak usia dini di Semarang. Diharapkan inisiatif serupa akan diperluas ke daerah lain.

Keberhasilan program wajib belajar 13 tahun akan sangat dipengaruhi oleh seberapa kuat pondasi karakter yang dibangun pada masa prasekolah. Upaya bersama antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat menjadi kunci utama.

Dengan penekanan pada karakter, nilai moral, dan integrasi teknologi, harapan Abdul Mu’ti adalah terciptanya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas tinggi. Kondisi ini diyakini dapat meningkatkan daya saing bangsa di era global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.