Media Kampung – 02 April 2026 | SMPN 1 Kunjang, sebuah sekolah menengah pertama di Kediri, menyelenggarakan aksi penanaman lidah buaya selama dua hari pada tanggal 1 hingga 2 Maret 2026, yang melibatkan seluruh siswa kelas 7, 8, dan 9 serta para guru, dengan tujuan memanfaatkan area halaman sekolah sebagai ruang belajar luar kelas.

Kegiatan yang diberi nama Talibuy ini didukung oleh PT Keong Nusantara Abadi, yang menyediakan 270 bibit lidah buaya secara gratis, masing‑masing sepuluh bibit per kelas, serta memberikan bantuan teknis selama penanaman dan tahap pemantauan selanjutnya.

Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil, menerima pelatihan tentang persiapan lahan, pencampuran sekam padi dengan tanah sebagai kompos, serta penentuan jarak tanam yang ideal agar akar dapat berkembang tanpa kompetisi, sebelum mereka memulai proses penanaman secara langsung.

Di bawah pengawasan wali kelas, para murid berbondong‑bondong mengisi halaman, masing‑masing memegang satu bibit dan menanamnya sesuai petunjuk; Galang, siswa kelas 8E, menekankan pentingnya jarak tanam yang tepat agar tanaman tidak saling menumpuk ketika tumbuh.

Uniknya, para peserta mengenakan pakaian khas petani setempat, termasuk kaus lengan panjang yang biasanya disumbangkan oleh distributor pupuk, daster bagi siswi, serta topi atau caping untuk melindungi kepala dari terik matahari.

Meskipun aksi ini berlangsung pada bulan Ramadan dan beberapa siswa merasakan rasa haus serta kelelahan, semangat tetap tinggi, terbukti dari antusiasme mereka dalam mengikuti setiap tahap tanpa mengurangi konsentrasi pada tugas yang diberikan.

Lidah buaya telah menjadi ciri khas pertanian Kunjang; daerah ini dikenal sebagai salah satu produsen dan pengekspor aloe vera terbesar di Kediri, sehingga hampir setiap rumah tangga menanamnya di kebun pribadi atau halaman rumah.

Zahra, murid kelas 9A, menyatakan bahwa pengalaman menanam lidah buaya memberi wawasan baru tentang cara penanaman yang benar, menambahkan bahwa tanaman tidak boleh ditanam secara sembarangan karena dapat mengurangi kualitas pertumbuhannya.

Fathiya dari kelas 8F menambahkan bahwa setelah proses penanaman, siswa juga diberikan materi tentang pemanfaatan lidah buaya dalam kebutuhan sehari‑hari, seperti pembuatan sampo alami, yang menurutnya membuat kegiatan menjadi lebih menarik dan bermanfaat.

Kepala Sekolah, Ibu Kristien Endah Riwayati, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak, terutama para siswa yang berhasil menyukseskan aksi ini, dan berharap program serupa dapat menjadi langkah awal bagi murid untuk lebih mengenal lingkungan sekitar serta mengaplikasikan pengetahuan teoritis di lapangan.

Sekolah berencana melakukan pemantauan rutin terhadap pertumbuhan bibit yang telah ditanam dan mengintegrasikan hasilnya ke dalam modul pembelajaran selanjutnya, mencakup topik pertanian, kesehatan, serta potensi usaha kecil berbasis produk lidah buaya.

Aksi Talibuy ini memperlihatkan bahwa proyek berbasis komunitas dapat meningkatkan kesadaran lingkungan, mempererat hubungan antar siswa dan guru, serta memberikan kontribusi nyata bagi aset ekonomi lokal, khususnya pada periode Ramadan yang penuh nilai kebersamaan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.