Media Kampung – 01 April 2026 | Setelah bencana hidrometeorologi melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir 2025, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Satgas PRR) mencatat 4.922 fasilitas pendidikan terdampak. Meskipun begitu, proses belajar mengajar di ketiga provinsi telah kembali berjalan secara penuh.

Provinsi Aceh mencatat 3.120 unit fasdik rusak, Sumatra Utara 1.149 unit, dan Sumatra Barat 653 unit. Dari total tersebut, 3.046 fasilitas di Aceh, 1.133 di Sumatra Utara, dan 640 di Sumatra Barat telah kembali menggelar pembelajaran di ruang kelas asal.

Upaya pemulihan ruang kelas terus dipercepat melalui kerja sama antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan kontraktor renovasi. Lebih dari 1.000 fasdik telah ditandatangani perjanjian kerja sama untuk perbaikan, dengan prioritas diberikan pada yang mengalami kerusakan parah.

Ketua Satgas PRR Tito Karnavian menegaskan bahwa penetapan prioritas bersifat dinamis dan berbasis tingkat kerusakan. “Mendikdasmen menyampaikan lebih dari 1.000 fasilitas pendidikan sudah perjanjian kerja sama untuk melakukan perbaikan, tapi kami menggunakan skala prioritas, mana yang rusak berat dikerjakan dahulu,” ujarnya di Jakarta, 25 Maret 2026.

Di lapangan, siswa SMA Negeri 2 Meureudu, Pidie Jaya, masih harus belajar di kelas darurat atau tenda karena bangunan utama belum sepenuhnya pulih. Meskipun begitu, semangat belajar tetap tinggi di antara mereka.

Nuraiche, siswa kelas 12, mengakui bahwa kondisi belajar tidak ideal namun ia tetap antusias kembali ke sekolah. “Kami tetap belajar seperti biasa, karena juga mau ujian,” katanya pada 30 Maret 2026.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Hasanah, menjelaskan bahwa persiapan Ujian Kelas Akhir (UKA) tetap berjalan meski dalam situasi darurat. Sebanyak 92 siswa kelas 12 akan mengikuti ujian yang mencakup 14 mata pelajaran, dengan kisi‑kisi soal dan bimbingan belajar tambahan disediakan.

Pembelajaran intensif dilakukan oleh wali kelas serta program bimbingan belajar tambahan untuk memaksimalkan persiapan siswa. Upaya tersebut diharapkan menutup kesenjangan yang muncul akibat keterbatasan fasilitas.

Data Satgas PRR menunjukkan bahwa renovasi fasdik tidak hanya meningkatkan kualitas ruang kelas, tetapi juga menjaga keberlanjutan proses pendidikan di daerah rawan bencana. Hal ini penting menjelang ujian nasional yang dijadwalkan pada April 2026.

Pemerintah daerah dan pusat berkomitmen untuk menyelesaikan renovasi fasdik yang paling kritis sebelum akhir tahun ajaran. Targetnya adalah mengembalikan semua fasilitas pendidikan ke kondisi layak pakai paling lambat Desember 2026.

Para siswa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menegaskan bahwa motivasi belajar tidak terpengaruh oleh bangunan yang rusak. Mereka terus mengoptimalkan sumber belajar yang tersedia, baik dari materi cetak maupun daring.

Dengan dukungan Satgas PRR, kementerian, dan pihak kontraktor, diharapkan fasilitas pendidikan yang terdampak dapat dipulihkan secara berkelanjutan, sehingga semangat belajar siswa tetap terjaga hingga akhir tahun ajaran.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.