Media Kampung – 11 April 2026 | Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno resmi memindahkan kantor kerja ke kawasan Kota Tua mulai bulan depan sebagai langkah konkret percepatan revitalisasi.

Keputusan diambil setelah tim revitalisasi dibentuk, dengan Rano sebagai ketua yang akan memantau proyek langsung di lapangan hingga 2029.

Kota Tua seluas hampir 363 hektar dibagi menjadi tiga zona—inti, pengembangan, dan penunjang—dengan zona inti berluas sekitar 80 hektar menjadi prioritas pertama.

Zona inti mencakup Museum Bahari, Alun‑Alun Fatahillah, serta sejumlah bangunan kolonial yang akan dipugar sekaligus dijadikan pusat aktivitas publik.

“Kami akan memusatkan upaya pada zona inti dulu, karena di sanalah nilai sejarah paling tinggi,” ujar Rano dalam sambutan di Pendopo Balai Kota pada 9 April 2026.

Revitalisasi akan dijalankan dalam empat pilar utama: pendidikan, ekonomi kreatif, budayapariwisata, dan transportasi terintegrasi, yang diharapkan menciptakan ekosistem berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi berkoordinasi dengan Konsorsium Kota Tua dan mengundang pakar yang pernah menggarap proyek serupa di Kota Lama Semarang untuk memberikan masukan teknis.

Rano menekankan pentingnya kolaborasi lintas OPD, pemilik aset, dan pelaku usaha untuk memastikan hasil yang “visible, viable, dan profitable”.

Sebagai bagian dari upaya rendah emisi, kawasan Kota Tua tetap ditetapkan sebagai Low Emission Zone (LEZ) sejak 2021, yang melarang kendaraan bermotor tidak memenuhi standar emisi.

“LEZ membantu mengurangi polusi udara dan mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik,” kata Rano menambahkan.

Pemerintah berencana memperkenalkan trem listrik yang akan menghubungkan Harmoni ke Pasar Baru, mengingat sejarah transportasi trem di Jakarta.

Rano mengingat pengalaman pribadinya naik trem pada usia delapan tahun, lalu menyatakan trem dapat menurunkan emisi bila terintegrasi dengan jaringan MRT yang sedang dibangun.

MRT Jakarta diproyeksikan mencapai area Kota Tua pada tahun 2029, menjadi game changer bagi aksesibilitas dan mendukung konsep Transit‑Oriented Development (TOD).

Selain MRT, rencana pemulihan jalur kereta non‑listrik menjadi KRL yang menghubungkan Kota Tua dengan Tanjung Priok melalui JIS sedang dalam tahap finalisasi.

Rano menyatakan bahwa keberhasilan transportasi publik sangat bergantung pada sinergi antara trem, MRT, dan KRL, sehingga mobilitas wisatawan dan warga dapat berjalan lancar.

Pemerintah juga menyiapkan fasilitas pendukung seperti area bagi UMKM, penataan pedagang kaki lima, serta pembangunan kantong parkir yang ramah lingkungan.

Seluruh tim revitalisasi akan beroperasi langsung dari kantor yang baru di Kota Tua, memungkinkan pemantauan real‑time atas progres pembangunan.

Dengan langkah ini, Pemerintah DKI menegaskan komitmen mengembalikan identitas sejarah Jakarta sekaligus menjadikan Kota Tua sebagai destinasi global yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.