Media Kampung – 10 April 2026 | Menteri Perhubungan Budi Karya menegaskan bahwa Rest Area (RA) KM 57 menimbulkan gangguan signifikan pada arus lalu lintas mudik Lebaran 2026. Ia mengingatkan bahwa jika perbaikan tidak segera dilakukan, RA tersebut dapat ditutup.
RA KM 57 terletak di jalur utama tol Trans-Java yang menjadi rute utama pulang kampung bagi jutaan kendaraan. Pada pekan pertama mudik, titik ini mencatat kepadatan yang melampaui kapasitas desainnya.
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) mencatat antrean kendaraan mencapai lebih dari 2.000 unit dalam satu jam pada sore hari. Kondisi tersebut memaksa pengendara menunggu lama di pintu masuk RA.
Menhub menambahkan bahwa gangguan tersebut tidak hanya memperlambat perjalanan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan. ”Kami tidak dapat menerima situasi yang membahayakan pengguna jalan,” ujarnya.
Pemerintah telah membentuk tim khusus untuk mengevaluasi operasional RA KM 57. Tim tersebut terdiri dari perwakilan Kementerian Perhubungan, PT Jasa Marga, dan Dinas Perhubungan daerah.
Tim evaluasi melakukan survei lapangan selama tiga hari terakhir. Hasil sementara menunjukkan kurangnya fasilitas parkir dan area istirahat yang memadai.
Selain kapasitas parkir, masalah utama terletak pada tata letak akses masuk dan keluar yang tumpang tindih. Hal ini menyebabkan kendaraan masuk dan keluar secara bersamaan, menciptakan kemacetan.
Menteri menekankan pentingnya mengoptimalkan pengelolaan fasilitas publik selama musim mudik. ”Setiap titik kritis harus dapat melayani arus kendaraan dengan lancar,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, pemerintah memerintahkan pengoperasian ulang jam buka RA. Operasional akan dipindahkan ke jam non-puncak untuk mengurangi beban pada jam sibuk.
Selanjutnya, pihak pengelola diminta menambah jumlah petugas lalu lintas di area tersebut. Penambahan petugas diharapkan dapat mengatur arus masuk dan keluar secara terkoordinasi.
Pemerintah juga mempertimbangkan pemasangan sistem informasi real‑time untuk memberi peringatan kepada pengendara. Informasi tersebut dapat ditampilkan melalui papan elektronik di gerbang tol.
Jika setelah tiga minggu tidak terlihat perbaikan signifikan, Menhub menyatakan keputusan penutupan akan dipertimbangkan. Keputusan tersebut akan diambil dengan mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi.
Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa penutupan tidak bersifat permanen. RA dapat dibuka kembali setelah perencanaan ulang dan peningkatan infrastruktur selesai.
Pengendara yang terdampak diharapkan dapat menggunakan fasilitas alternatif di kilometer 50 dan 62. Kedua titik tersebut telah dipersiapkan dengan fasilitas tambahan.
Data historis menunjukkan bahwa RA dengan kapasitas rendah sering menjadi titik kemacetan pada periode mudik. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi perbaikan jaringan tol nasional.
Kementerian berkomitmen untuk melakukan audit rutin pada semua rest area strategis. Audit akan mencakup aspek keamanan, kebersihan, dan kemampuan menampung volume kendaraan.
Pihak terkait juga diminta menyusun rencana kontinjensi untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan mendadak. Rencana tersebut meliputi penempatan tim darurat dan peralatan penunjang.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan arus mudik Lebaran 2026 dapat berjalan lebih lancar tanpa hambatan signifikan. Pemerintah menegaskan komitmen untuk melindungi kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan