Media Kampung – 08 April 2026 | Harga plastik di Surabaya mengalami lonjakan signifikan, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Anggota DPRD Kota Surabaya meminta Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopdag) segera turun tangan.

Peningkatan harga ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, mengganggu rantai pasok bahan baku plastik global. Dampak geopolitik tersebut menambah tekanan pada pasar domestik, terutama pada sektor kemasan.

“Kenaikan harga ini sangat luar biasa, padahal kebutuhan plastik di Surabaya sangat tinggi,” ujar Sekretaris Komisi B DPRD, Ghofar Ismail, pada Selasa (7/4). Ia menekankan bahwa UMKM sangat bergantung pada plastik untuk operasional harian.

Para pelaku usaha kecil melaporkan kenaikan biaya produksi hingga 30 persen, yang mengancam margin keuntungan mereka. Banyak pedagang mengaku harus menanggung beban tambahan tanpa dapat menaikkan harga jual.

Ghofar menuntut Dinkopdag memberikan pelatihan tentang alternatif kemasan yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan. Ia menilai langkah edukasi ini penting untuk mengurangi beban biaya bagi UMKM.

Alternatif yang disarankan meliputi penggunaan kardus, kemasan berbahan biodegradable, serta bahan lain yang dapat diproduksi secara lokal. Pilihan tersebut diharapkan menurunkan pengeluaran tanpa mengorbankan kualitas produk.

Dinkopdag juga diminta untuk melakukan inspeksi rutin ke pasar-pasar dan toko grosir plastik. Tujuannya adalah memantau stabilitas harga serta mencegah praktik spekulasi yang merugikan.

Inspeksi tersebut diharapkan dapat memastikan ketersediaan stok yang cukup dan mencegah lonjakan harga yang tidak terkendali. Ghofar menekankan pentingnya transparansi dalam penetapan harga.

Surabaya memiliki lebih dari 100 ribu UMKM yang secara rutin menggunakan kemasan plastik untuk barang konsumsi. Kenaikan harga plastik secara langsung memengaruhi biaya operasional mereka.

Jika tidak ditangani, peningkatan biaya ini dapat memaksa sebagian UMKM menutup usahanya atau mengurangi produksi. Hal ini berpotensi menurunkan kontribusi sektor UMKM terhadap PDB daerah.

Dinkopdag diperkirakan akan mengevaluasi kemungkinan subsidi bahan baku atau program bantuan keuangan khusus. Kebijakan semacam itu dapat meredam dampak negatif pada profitabilitas usaha kecil.

Penyebab utama lonjakan harga plastik adalah gangguan rantai pasok internasional akibat ketegangan geopolitik. Konflik tersebut memperlambat pengiriman bahan baku dan menambah biaya transportasi.

Pemerintah daerah sebelumnya telah meluncurkan program pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Program tersebut kini menjadi landasan bagi inisiatif penggantian kemasan.

Jika Dinkopdag dapat mengimplementasikan pelatihan dan inspeksi secara konsisten, UMKM diperkirakan akan menyesuaikan strategi produksi dengan lebih cepat. Adaptasi ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga jual akhir.

Para pemangku kepentingan menilai bahwa respons cepat dan terkoordinasi akan menurunkan beban biaya pada UMKM. Upaya bersama antara legislatif, eksekutif, dan pelaku usaha menjadi kunci keberhasilan.

Dengan langkah-langkah konkret yang diusulkan, diharapkan harga plastik dapat stabil kembali dan UMKM Surabaya dapat terus beroperasi tanpa tekanan finansial yang berlebihan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.