Media Kampung – 07 April 2026 | Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana kebijakan baru guna mengurangi tekanan ekonomi pada generasi sandwich, yakni kelompok usia dewasa yang harus menanggung biaya orang tua sekaligus anak.

Kebijakan tersebut akan berlandaskan pada analisis data National Transfer Account (NTA) yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik.

NTA menyediakan gambaran aliran pendapatan dan beban antar generasi, sehingga memungkinkan perancangan intervensi yang lebih tepat sasaran.

Melalui NTA, pemerintah dapat mengidentifikasi wilayah dan kelompok rumah tangga yang paling terdampak oleh beban ganda.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa data NTA akan menjadi fondasi utama dalam penetapan program subsidi dan insentif.

Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis data diharapkan meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran negara.

Salah satu langkah konkret yang direncanakan adalah penyesuaian program Keluarga Harapan (PKH) dengan menambah komponen bantuan bagi orang tua lanjut usia yang masih bergantung pada anak‑anaknya.

Penyesuaian tersebut akan memperhitungkan tingkat pengeluaran per kapita serta beban hutang rumah tangga.

Selain PKH, pemerintah juga meninjau kembali kebijakan tunjangan pensiun bagi ASN dan pekerja sektor informal.

Tujuannya adalah menciptakan jaring pengaman yang dapat menahan beban biaya kesehatan dan pendidikan anak.

Analisis NTA menunjukkan bahwa beban finansial pada generasi sandwich meningkat tajam sejak 2015, terutama di daerah perkotaan.

Persentase rumah tangga dengan tiga atau lebih generasi yang hidup bersama meningkat 12 persen dalam lima tahun terakhir.

Data tersebut menegaskan perlunya kebijakan yang tidak hanya fokus pada satu sisi, melainkan mencakup dukungan lintas generasi.

Oleh karena itu, pemerintah berencana meluncurkan paket kebijakan terpadu yang meliputi subsidi energi, bantuan pendidikan, dan program kesehatan preventif.

Pakar ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Suryani, menilai bahwa pendekatan NTA dapat meminimalisir distorsi fiskal.

Ia menekankan bahwa tanpa data yang akurat, kebijakan bantuan sering kali tidak menjangkau penerima yang paling membutuhkan.

Sementara itu, LSM sosial menyoroti pentingnya penyuluhan finansial untuk meningkatkan literasi keuangan generasi sandwich.

Program edukasi tersebut akan dipadukan dengan aplikasi mobile yang memudahkan akses informasi tentang hak dan manfaat pemerintah.

Pemerintah menargetkan peluncuran pilot program di tiga provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, pada kuartal berikutnya.

Pilihan provinsi didasarkan pada tingkat kepadatan generasi sandwich dan ketersediaan data NTA yang lengkap.

Selama fase percobaan, pihak terkait akan mengumpulkan umpan balik dari penerima manfaat dan mengukur dampak ekonomi secara kuantitatif.

Evaluasi tersebut akan menentukan skala implementasi nasional dan penyesuaian kebijakan lebih lanjut.

Anggaran awal untuk program ini diperkirakan mencapai Rp 12 triliun, yang akan dibagi antara kementerian keuangan, sosial, dan pendidikan.

Pemerintah berkomitmen untuk menambah alokasi anggaran apabila hasil evaluasi menunjukkan kebutuhan yang lebih luas.

Kritik muncul dari sebagian kalangan yang khawatir program ini dapat menambah beban defisit APBN.

Namun, pejabat keuangan menegaskan bahwa investasi pada kesejahteraan generasi sandwich bersifat jangka panjang dan dapat meningkatkan produktivitas nasional.

Selain aspek finansial, pemerintah juga menyoroti pentingnya layanan kesehatan mental bagi generasi sandwich yang sering mengalami stres.

Kerjasama dengan institusi kesehatan akan menyediakan konseling gratis dan program dukungan psikososial.

Di sisi lain, pemerintah mengajak sektor swasta untuk berpartisipasi dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) yang menargetkan keluarga rentan.

Skema kemitraan ini diharapkan memperluas cakupan bantuan tanpa membebani APBN secara signifikan.

Sebagai langkah lanjutan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) akan memperbaharui indikator kesejahteraan dalam RPJMN.

Indikator baru mencakup rasio beban keuangan antar generasi serta tingkat keberlanjutan dukungan sosial.

Penerapan kebijakan berbasis NTA juga diharapkan dapat memperkuat koordinasi antar kementerian terkait.

Koordinasi ini akan mengurangi tumpang tindih program dan meningkatkan transparansi alokasi dana.

Pemerintah menutup pernyataan dengan menegaskan komitmen jangka panjang untuk menurunkan tekanan ekonomi pada generasi sandwich, sehingga kesejahteraan keluarga Indonesia dapat terjaga secara berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.