Media Kampung – 03 April 2026 | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan percepatan langkah mitigasi kekeringan menjelang potensi El Nino pada periode kritis April‑Juni 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional.
Koordinasi antisipasi kemarau 2026 dilaksanakan di kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Kamis 2 April. Dalam rapat, Mentan menekankan urgensi tindakan cepat mengikuti peringatan BMKG.
Stok gabah nasional tercatat 4,4 juta ton dan target pencapaian 5 juta ton diharapkan tercapai bulan ini. Pencapaian tersebut dianggap hasil kerja keras seluruh tim Kementan.
Lima strategi utama dipercepat, dimulai dengan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta penguatan sistem peringatan dini. Data tersebut diharapkan meningkatkan ketepatan respons di lapangan.
Strategi kedua fokus pada optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, dan penguatan irigasi perpompaan. Pompanisasi dan sistem perpipaan juga diperluas ke wilayah yang membutuhkan.
Strategi ketiga mempercepat penanaman di area yang masih memiliki cadangan air, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Varietas unggul tahan kekeringan serta umur genjah diprioritaskan untuk meningkatkan produktivitas.
Strategi keempat menitikberatkan pada pemanfaatan lahan rawa dan cetak sawah yang telah dibangun. Lahan tersebut segera ditanami untuk menutup kesenjangan produksi.
Strategi kelima menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, TNI, serta pemangku kepentingan lainnya. Sinergi diharapkan memperlancar pelaksanaan program di tingkat daerah.
Mentan Amran menekankan percepatan optimalisasi lahan, pompanisasi, dan irigasi perpompaan, termasuk sumur dalam dan sumur dangkal. Semua elemen tersebut harus dimanfaatkan sebelum hujan musim semi berkurang.
Ia menyatakan, “Gunakan musim hujan yang masih ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, percepat penanaman, oplah lahan rawa, serta pompanisasi dan irpom.” Pernyataan tersebut menegaskan prioritas pada daerah dengan curah hujan tersisa.
Implementasi konkret telah dimulai, dengan percepatan tanam di wilayah yang masih memiliki akses air. Optimalisasi lahan dan cetak sawah juga telah dijalankan secara simultan.
Penguatan pompanisasi dan irigasi perpompaan telah dilakukan di beberapa kabupaten yang mengalami penurunan curah hujan. Program ini melibatkan penyediaan pompa diesel maupun listrik.
Menteri meminta pemerintah daerah mengajukan kebutuhan irigasi secara online untuk penyesuaian anggaran cepat. Kepala Dinas diharapkan mengirimkan usulan secepatnya agar anggaran dapat digeser.
“Jika daerah masih butuh irpom, usulkan sekarang via online, kepala dinas usulkan cepat agar kita bisa geser anggaran,” ujar Mentan. Ia menambahkan, “Yang butuh pompa tolong pantau.”
Keberhasilan strategi sangat dipengaruhi kecepatan gerak di lapangan, terutama pada bulan April‑Juni yang menjadi penentu produksi. Mentan menegaskan, “Jika target lolos, swasembada pangan berkelanjutan.”
Target utama adalah memastikan ketersediaan pangan tidak terganggu oleh kondisi iklim ekstrem. Pencapaian tersebut akan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, penyuluh pertanian, dan petani menjadi kunci utama. Mentan menilai sinergi lintas sektor dapat mempercepat realisasi program.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa swasembada dapat dicapai melalui kerja keras bersama. “Saya percaya swasembada tercapai karena kalian semua,” ucapnya.
Pertanian diharapkan menjadi penopang utama ekonomi di tengah krisis ekonomi global. Mentan menekankan peran sektor pertanian dalam menstabilkan harga pangan.
Program percepatan ini juga diharapkan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Dukungan teknis dan finansial akan diberikan kepada petani yang berpartisipasi.
Penggunaan varietas tahan kekeringan diharapkan mengurangi risiko kegagalan panen. Varietas tersebut dipilih berdasarkan hasil uji ketahanan terhadap stres air.
Penguatan jaringan irigasi meliputi perbaikan kanal, instalasi pompa, dan pembangunan sumur dalam. Semua upaya diarahkan untuk mengoptimalkan distribusi air ke lahan pertanian.
Pemetaan wilayah rawan kekeringan menggunakan data satelit dan survei lapangan. Hasil pemetaan akan menjadi dasar alokasi sumber daya.
Sistem peringatan dini kini terintegrasi dengan BMKG untuk mempercepat penyebaran informasi. Petani dapat menerima peringatan melalui aplikasi seluler dan radio komunitas.
Penggunaan teknologi tepat guna, seperti sensor kelembaban tanah, juga dipertimbangkan untuk meningkatkan efisiensi irigasi. Inovasi ini diharapkan menurunkan penggunaan air secara berlebihan.
Dalam rapat, Mentan menegaskan pentingnya monitoring dan evaluasi rutin. Setiap fase implementasi akan dilaporkan kepada Presiden dan Kementerian Keuangan.
Jika target produksi tercapai, Indonesia dapat mempertahankan posisi swasembada dalam tiga tahun ke depan. Hal ini menjadi indikator keberhasilan kebijakan mitigasi kekeringan.
Keseluruhan upaya ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif El Nino pada sektor pertanian. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan iklim.
Dengan percepatan lima strategi utama, Kementerian Pertanian optimistis dapat menjaga stabilitas produksi pangan. Penutupnya, Mentan mengingatkan semua pihak untuk menggerakkan aksi nyata di lapangan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan