Media Kampung – 07 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Maret 2026 mencatat penurunan 14,4% hingga berada di level 7.048, menandai kelesuan pasar pada kuartal pertama tahun ini.

Penurunan ini terjadi bersamaan dengan dinamika serupa di bursa saham global dan regional, mengindikasikan tekanan eksternal yang memengaruhi sentimen investor domestik.

Data perdagangan menunjukkan volume transaksi menurun, sementara likuiditas pasar mengalami tekanan akibat aliran dana yang beralih ke aset yang lebih aman.

Para analis menyebutkan bahwa faktor geopolitik, kebijakan moneter luar negeri, dan ketidakpastian inflasi menjadi pemicu utama volatilitas yang dirasakan oleh pelaku pasar.

Hasan Fawzi, kepala riset pasar modal di salah satu perusahaan sekuritas terkemuka, menegaskan bahwa pergerakan IHSG mencerminkan reaksi pasar terhadap perkembangan ekonomi global yang tidak menentu.

“Pasar Indonesia memang tidak terisolasi; setiap gejolak di Amerika atau Eropa akan langsung terasa di bursa lokal,” ujar Fawzi dalam konferensi pers pada hari Rabu.

Ia menambahkan bahwa kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang masih tinggi menjadi salah satu beban bagi aliran modal ke pasar emerging.

Di sisi domestik, data pertumbuhan ekonomi kuartal I menunjukkan laju yang lebih lambat dari perkiraan, menambah beban pada ekspektasi profit perusahaan.

Perusahaan-perusahaan sektor energi dan konsumer mengalami penurunan laba bersih, sementara sektor teknologi tetap relatif stabil.

Para pelaku pasar diharapkan menyesuaikan portofolio dengan menambah posisi defensif, seperti obligasi pemerintah dan saham dengan dividen tinggi.

Bank Indonesia belum mengumumkan perubahan kebijakan moneter dalam jangka pendek, namun ia menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pengamat pasar menilai bahwa IHSG masih berpotensi menembus level support di sekitar 7.000, terutama jika tekanan eksternal berlanjut.

Namun, mereka juga mencatat bahwa kebijakan stimulus fiskal yang direncanakan pemerintah dapat memberikan dorongan jangka menengah bagi pertumbuhan ekonomi.

Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia berada pada fase penyesuaian, dengan investor menunggu sinyal kebijakan lebih jelas serta perkembangan ekonomi global yang lebih stabil.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.