Media Kampung – 03 April 2026 | KOSPI jatuh hampir 5% pada 2 April 2024, menutup di 5.234,05 poin, penurunan 244,65 poin (4,47%). Penurunan dipicu peringatan Presiden AS Donald Trump tentang kemungkinan serangan keras ke Iran.

Data dari lantai perdagangan Hana Bank memperlihatkan angka penutupan tersebut, sementara nilai tukar dolar‑won juga mengalami volatilitas di tengah ketegangan di Teluk Hormuz. Investor mengalirkan dana ke aset safe‑haven, menurunkan likuiditas pasar saham Korea.

Presiden Korea Selatan Lee Jae‑Myung menyampaikan pidato di Majelis Nasional tentang anggaran tambahan untuk mendukung kebijakan luar negeri terkait konflik Timur Tengah. Ia menekankan perlunya stabilitas regional untuk melindungi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Dalam pidatonya, Lee menambahkan bahwa pemerintah siap menyesuaikan kebijakan fiskal bila situasi di kawasan mengganggu pasokan energi. Ia menegaskan komitmen Korea untuk menjaga keamanan pasokan energi nasional.

Penurunan KOSPI terjadi bersamaan dengan penurunan cadangan devisa Korea Selatan pada Maret, yang turun tajam dan menurunkan peringkat negara menjadi ke‑12 secara global. Penurunan cadangan menambah kekhawatiran tentang ketahanan ekonomi di tengah gejolak geopolitik.

Meskipun pasar saham melemah, KRX mengumumkan rencana menyelenggarakan konferensi internasional tentang tata kelola korporasi di Seoul pada akhir bulan. Acara tersebut diharapkan menarik partisipasi pelaku pasar global dan memperkuat standar transparansi perusahaan Korea.

Laporan keuangan kuartal pertama menunjukkan laba bersih perusahaan tercatat naik lebih dari 33% pada tahun 2025, menandakan kinerja korporasi yang tetap kuat meski pasar saham bergejolak. Sektor teknologi dan semikonduktor menjadi kontributor utama pertumbuhan laba.

Pada sesi perdagangan pagi, indeks KOSPI sempat naik kembali setelah harga minyak dunia menurun, dipicu oleh harapan pembukaan selat hormuz. Namun, penurunan kembali terjadi ketika spekulasi tentang eskalasi militer Iran kembali menguat.

Analisis pasar menyebutkan bahwa volatilitas harga energi menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan KOSPI, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada impor minyak. Investor memperhatikan kebijakan energi Amerika dan Iran sebagai indikator utama.

Sementara itu, nilai tukar won menguat ke level tertinggi dua bulan, menandakan pergerakan modal masuk ke mata uang domestik meski tekanan eksternal. Penguatan won memberikan sedikit bantuan pada sektor ekspor yang sensitif terhadap nilai tukar.

Pengamat pasar di Woori Bank menilai bahwa penurunan tajam KOSPI mencerminkan reaksi emosional terhadap pernyataan Trump, namun fundamental ekonomi Korea tetap solid. Ia menyarankan investor menunggu konfirmasi kebijakan luar negeri sebelum mengambil keputusan besar.

Secara keseluruhan, pasar saham Korea berada dalam kondisi rentan, dipengaruhi oleh dinamika geopolitik Timur Tengah dan kebijakan moneter global. Pengawasan terus diperlukan untuk menilai dampak jangka panjang pada pertumbuhan ekonomi negara.

Bank sentral Korea Selatan (BOK) menyiapkan kebijakan likuiditas tambahan jika volatilitas pasar terus meningkat. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan sistem keuangan dan menghindari penurunan kredit yang tajam.

Pada akhir pekan, analis menilai bahwa jika ketegangan di Teluk Hormuz mereda, KOSPI dapat pulih dalam jangka menengah, didukung oleh sektor teknologi dan ekspor yang kuat. Namun, risiko geopolitik tetap menjadi faktor penghambat utama.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.