Media Kampung – 31 Maret 2026 | BRI melaporkan laba bersih Rp7,73 triliun pada Februari 2026, naik 17,04% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dipicu oleh pertumbuhan kredit yang lebih kuat dan margin bunga yang lebih tinggi.
Bank negara mengungkapkan total aset mencapai Rp1.200 triliun, sedikit lebih tinggi dari tahun lalu. Basis dana pihak ketiga tumbuh 5,6% secara tahunan, memperkuat likuiditas.
Portofolio kredit BRI meningkat 6,1% menjadi Rp950 triliun, didorong oleh segmen konsumer dan UKM. Rasio kredit macet tetap di bawah 1,5%, menandakan kualitas aset yang stabil.
Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) membaik menjadi 38,2% dari 40,1% pada 2025. Efisiensi operasional tercapai lewat ekspansi kanal digital.
Sementara itu, Bank Jatim mencatat laba bersih Rp1,54 triliun pada 2025, naik 20,65% YoY. Asetnya mencapai Rp105,8 triliun, meningkat 3,7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Penyaluran kredit Bank Jatim mencapai Rp67,2 triliun, naik 4,98% dengan kredit konsumen Rp36,54 triliun. Kredit produktif berkontribusi Rp30,7 triliun, tumbuh 3,55%.
Bank regional menyoroti kenaikan dana pihak ketiga sebesar 12,5%, terutama giro yang mencapai Rp21,4 triliun. Rasio loan‑to‑deposit tetap berada pada level yang wajar.
Kedua bank menekankan inisiatif digital sebagai pendorong utama. Aplikasi BRI mencatat lebih dari 20 juta pengguna aktif, sementara platform JConnect Bank Jatim mencapai 993.972 pengguna, naik 22,4%.
Pengamat pasar mencatat tren beragam di antara bank besar Indonesia. Saham BMRI dan BBCA menguat, sementara BBRI dan BBNI melemah tipis pada sesi awal.
Analis mengaitkan dorongan laba BRI pada margin bunga bersih yang meluas menjadi 5,3% pada kuartal terbaru. Manfaat margin berasal dari campuran pinjaman ritel yang lebih menguntungkan.
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada 6,0% sepanjang 2025, menciptakan lingkungan pendanaan yang stabil. Kondisi ini membantu bank menjaga tingkat NPL yang moderat.
BRI berencana memperkuat layanan transaction‑banking untuk menarik dana murah. Strategi ini sejalan dengan target laba ganda digit pada 2027.
Manajemen Bank Jatim menekankan perluasan jaringan agen, kini meliputi lebih dari 14.800 agen di Jawa Timur. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan penetrasi kredit di wilayah yang belum terlayani.
Bank tersebut juga menyelesaikan konsolidasi lima bank pembangunan daerah, menciptakan sinergi modal dan manajemen risiko. Integrasi diproyeksikan menghasilkan penghematan biaya hingga Rp500 miliar per tahun.
Di sektor yang lebih luas, PT Bank Neo Commerce (BNC) melaporkan laba bersih Rp565,69 miliar pada 2025, fokus pada produk kredit digital. Rasio loan‑to‑depositnya berada pada 51,2%, jauh di bawah rata‑rata industri.
Efisiensi BNC meningkat signifikan, dengan BOPO turun menjadi 84,2% dari 99,3% tahun sebelumnya. Perusahaan menargetkan peluncuran layanan buy‑now‑pay‑later pada pertengahan 2026.
Secara keseluruhan, sektor perbankan menunjukkan pendapatan yang tangguh meski pertumbuhan makro melambat. Kredit tumbuh rata‑rata 5% pada separuh pertama 2026 di antara bank utama.
Regulator tetap waspada terhadap kualitas kredit, menjaga rasio NPL sektor di bawah 2%. Bank terus memperkuat provisi untuk memenuhi standar Basel III.
Sentimen investor tampak optimis, dengan indeks Jakarta Composite naik 2,3% sejak awal tahun. Laporan laba kuat dari BRI dan Bank Jatim berkontribusi pada momentum tersebut.
Kesimpulannya, pertumbuhan laba 17% BRI serta kinerja solid Bank Jatim 2025 menegaskan ketahanan perbankan Indonesia. Adopsi digital yang terus meningkat dan manajemen risiko yang disiplin diyakini akan mendukung pertumbuhan berkelanjutan ke depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan