Media Kampung – 10 Maret 2026 | Ketiga emiten andalan Boy Thohir, yaitu PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Aadi Sarana Tbk (AADI), dan PT Esindo Tbk (ESSA), mencatat penurunan laba bersih yang dramatis pada kuartal terakhir tahun 2025. Penurunan tersebut melampaui 60% secara gabungan, menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor dan analis pasar modal.
Penurunan Laba ADRO Mencapai Titik Terendah
ADRO, perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, melaporkan penurunan pendapatan dan laba yang signifikan. Menurut laporan internal yang beredar, laba bersih ADRO turun lebih dari 60% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor, antara lain harga batu bara global yang melemah, penurunan volume ekspor, serta kebijakan pemerintah yang semakin ketat terkait emisi karbon.
AADI Mengalami Penurunan Laba 37%
PT Aadi Sarana Tbk, yang bergerak di bidang konstruksi dan layanan pertambangan, mencatat penurunan laba bersih sebesar 37% dalam tahun 2025. Meskipun tidak sebesar ADRO, penurunan ini tetap signifikan mengingat AADI biasanya mencatat margin yang stabil. Penurunan pendapatan berasal dari proyek‑proyek infrastruktur yang tertunda dan penurunan permintaan jasa pertambangan akibat penurunan produksi batu bara secara umum.
ESSA Tak Lepas Dari Tren Negatif
PT Esindo Tbk (ESSA), perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan dan infrastruktur, juga tercatat mengalami penurunan laba bersih yang tajam. Meskipun tidak ada angka persentase pasti yang dipublikasikan, laporan internal menyebutkan penurunan mendekati 60% dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor utama meliputi penurunan harga listrik di pasar domestik dan penundaan proyek energi terbarukan yang berdampak pada cash flow.
Faktor Penyebab Penurunan Laba Secara Umum
- Harga Komoditas Global: Harga batu bara yang turun drastis sejak kuartal pertama 2025 menjadi beban utama bagi ADRO dan AADI.
- Kebijakan Lingkungan: Pemerintah Indonesia memperketat regulasi emisi, memaksa perusahaan tambang untuk menambah biaya compliance.
- Penurunan Permintaan Domestik: Konsumsi listrik dan energi di dalam negeri melambat, mempengaruhi pendapatan ESSA.
- Fluktuasi Kurs Rupiah: Depresiasi Rupiah meningkatkan beban utang luar negeri yang sebagian besar dimiliki ketiga perusahaan.
Reaksi Pasar dan Outlook
Pasar modal merespons penurunan laba ini dengan penurunan harga saham yang signifikan. ADRO turun hampir 12% dalam satu sesi perdagangan, sementara AADI dan ESSA masing‑masing turun 8% dan 9%. Analis memperkirakan bahwa pemulihan akan membutuhkan waktu setidaknya satu hingga dua tahun, tergantung pada stabilitas harga komoditas dan kebijakan pemerintah.
Beberapa analis menyarankan investor untuk memperhatikan fundamental perusahaan, khususnya rasio hutang‑to‑equity dan likuiditas jangka pendek, sebelum mengambil keputusan jual‑beli. Di sisi lain, peluang diversifikasi ke energi terbarukan tetap menjadi strategi jangka panjang yang potensial bagi Boy Thohir, mengingat tren global menuju dekarbonisasi.
Dengan tekanan eksternal yang kuat, ketiga emiten tersebut diprediksi akan fokus pada restrukturisasi biaya, optimalisasi operasional, serta percepatan proyek energi bersih yang dapat menambah nilai jangka panjang.









Tinggalkan Balasan