Media Kampung – 08 April 2026 | Ritno Kurniawan kini memimpin pengembangan ekowisata di Desa Sejahtera Astra Nyarai, menggantikan praktik penebangan kayu dengan layanan wisata alam.

Program ini melibatkan lebih dari seratus warga yang sebelumnya bergantung pada penebangan untuk mata pencaharian.

Selama tiga tahun terakhir, Ritno bersama timnya melatih penduduk menjadi pemandu wisata profesional dengan standar nasional.

Pelatihan meliputi pengetahuan flora dan fauna, teknik interpretasi alam, serta pelayanan tamu yang ramah.

Hasilnya, desa tersebut berhasil menarik wisatawan domestik dan mancanegara yang mencari pengalaman alam lestari.

Pemerintah daerah memberikan dukungan berupa perizinan, promosi, dan subsidi alat transportasi ramah lingkungan.

Selain itu, lembaga swadaya masyarakat menyumbangkan modul edukasi tentang konservasi hutan.

Perubahan ini turut menurunkan tingkat penebangan ilegal yang sebelumnya mencapai 30% dari total produksi kayu di wilayah itu.

Data Badan Kehutanan menunjukkan penurunan signifikan dalam kerusakan hutan sejak program ekowisata diluncurkan.

Warga yang beralih menjadi pemandu melaporkan peningkatan pendapatan rata-rata 40% dibandingkan sebelum program.

Beberapa keluarga bahkan mampu membuka usaha homestay dan kios makanan lokal.

Ekowisata di Sejahtera Astra Nyarai kini menawarkan trek trekking, pengamatan burung, dan lokakarya kerajinan tangan berbahan alami.

Pengunjung dapat belajar menanam pohon bambu sekaligus mendapatkan sertifikat partisipasi.

Pengelolaan sampah juga menjadi fokus, dengan penggunaan kompos dan daur ulang plastik.

Ritno menegaskan bahwa keberlanjutan memerlukan partisipasi aktif semua pihak, termasuk wisatawan.

Ia menambahkan, “Setiap langkah kecil wisatawan, seperti tidak membuang sampah, berdampak besar bagi hutan kami”.

Kegiatan promosi melalui media sosial memperluas jangkauan pasar, menarik kelompok sekolah dan perusahaan untuk kunjungan edukatif.

Beberapa perusahaan besar kini menjadikan desa tersebut sebagai lokasi team building bertema lingkungan.

Keberhasilan proyek ini menjadi contoh bagi desa-desa lain di Jawa Timur yang masih bergantung pada kayu.

Para ahli lingkungan mencatat bahwa model ekonomi berbasis ekowisata dapat mengurangi tekanan terhadap hutan tropis.

Namun, tantangan tetap ada, termasuk kebutuhan infrastruktur jalan yang masih terbatas.

Pemerintah provinsi berkomitmen membangun akses jalan beraspal tanpa merusak ekosistem sekitar.

Ritno juga mengajak komunitas sekitarnya untuk berkolaborasi dalam program penanaman kembali pohon.

Setiap tahun, desa menanam lebih dari 5.000 bibit pohon cepat tumbuh sebagai ganti area yang pernah ditebang.

Upaya ini didukung oleh sponsor korporasi yang menyediakan bibit dan pelatihan agrikultur.

Kondisi ekonomi desa kini lebih stabil, dengan diversifikasi sumber pendapatan.

Para penduduk melaporkan peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan berkat pendapatan tambahan dari ekowisata.

Dengan model ini, desa mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif yang rawan fluktuasi pasar.

Ritno Kurniawan berharap keberhasilan ini dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi deforestasi.

Ia menutup, “Kami ingin menjadi contoh bahwa alam dan ekonomi dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan”.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.