Media Kampung – Desa Wisata Osing yang terletak di Kemiren, Banyuwangi, kini menjadi sorotan utama sebagai pusat pelestarian budaya suku asli di ujung timur Pulau Jawa. Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat terus bersinergi untuk menjadikan kawasan ini sebagai destinasi unggulan yang berbasis kearifan lokal.
Keberhasilan pengembangan wilayah ini tidak lepas dari penerapan konsep pembangunan berkelanjutan yang terintegrasi dengan baik. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah pusat dalam memperkuat struktur ekonomi dan sosial di tingkat akar rumput melalui skema perdesaan.
Integrasi SDGs Desa dalam Pembangunan Kemiren
Apa itu SDGs Desa? SDGs Desa adalah upaya terpadu Pembangunan Desa untuk percepatan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan yang kini diterapkan secara masif di Kemiren. Melalui program ini, Desa Wisata Osing berfokus pada pertumbuhan ekonomi merata serta pemeliharaan identitas budaya yang sangat kuat.
Implementasi SDGs di desa ini mencakup berbagai aspek, mulai dari penyediaan lapangan kerja berbasis pariwisata hingga perlindungan lingkungan. Langkah ini memastikan bahwa modernisasi yang dibawa oleh industri pariwisata tidak menggerus nilai-nilai tradisional yang telah ada selama berabad-abad.
Kepala Desa Kemiren menyatakan bahwa keterlibatan aktif warga lokal adalah kunci utama dalam menjalankan roda pembangunan berkelanjutan ini. Tanpa partisipasi masyarakat, target-target pembangunan yang dicanangkan dalam skema SDGs Desa akan sulit untuk dicapai secara maksimal.
Kekayaan Tradisi dan Arsitektur Khas Suku Osing
Salah satu daya tarik utama yang memikat wisatawan mancanegara adalah rumah adat Osing yang memiliki desain atap unik bernama Tikel Balung. Bangunan-bangunan ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol filosofis hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Selain arsitektur, Desa Wisata Osing Banyuwangi secara rutin menggelar ritual adat seperti Ider Bumi yang dilaksanakan setiap tahunnya. Ritual ini berfungsi sebagai tolak bala sekaligus ungkapan syukur warga atas kelimpahan hasil bumi dan kesehatan yang mereka terima.
Keberadaan seni Mocoan Pacul Goang juga menjadi entitas budaya yang terus dipelihara melalui sekolah-sekolah adat di desa tersebut. Generasi muda diajarkan untuk melantunkan naskah kuno dengan cengkok khas yang tidak dapat ditemukan di daerah lain.
Potensi Ekonomi Kreatif dan Kuliner Lokal
Kuliner menjadi pilar penting dalam ekonomi kreatif di Kemiren, dengan Pecel Pitik sebagai hidangan yang paling dicari oleh pengunjung. Proses pembuatan yang masih tradisional menggunakan kayu bakar memberikan aroma dan rasa autentik yang sangat memanjakan lidah.
Selain makanan berat, kopi khas Kemiren yang diolah secara manual oleh para petani lokal juga telah menembus pasar nasional. Wisatawan dapat belajar langsung proses menyangrai kopi menggunakan wajan tanah liat dalam sesi wisata edukasi yang tersedia.
Pemberdayaan UMKM lokal dalam memproduksi suvenir khas Osing turut mendukung pencapaian target kemandirian ekonomi desa. Pendapatan dari sektor pariwisata ini dialokasikan kembali untuk pembangunan infrastruktur publik yang lebih memadai bagi warga sekitar.
Menjaga Keberlanjutan Lingkungan dan Sosial
Kelestarian alam di sekitar Desa Wisata Osing Banyuwangi tetap menjadi prioritas utama di tengah arus kunjungan wisatawan yang terus meningkat. Sistem sanitasi dan pengelolaan sampah kini dikelola secara mandiri oleh badan usaha milik desa guna mencegah polusi lingkungan.
Aspek sosial juga diperhatikan dengan menjamin pendidikan bagi anak-anak desa melalui beasiswa yang bersumber dari dana desa. Hal ini membuktikan bahwa pariwisata dapat menjadi katalisator bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Para ahli sosiologi menilai bahwa keberhasilan Kemiren merupakan model ideal bagi desa-desa lain di Indonesia dalam mengelola pariwisata. Keseimbangan antara profitabilitas ekonomi dan konservasi budaya menjadikannya percontohan yang sangat relevan bagi masa depan pariwisata nasional.
Bagi Anda yang merencanakan kunjungan, Desa Kemiren menawarkan pengalaman menginap di homestay yang menyatu dengan rumah warga setempat. Interaksi langsung dengan penduduk akan memberikan perspektif baru tentang arti keramahtamahan dan ketulusan masyarakat suku Osing.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan teknis dalam pengembangan infrastruktur digital di desa wisata tersebut. Transformasi digital diharapkan dapat memperluas jangkauan promosi ke level internasional tanpa meninggalkan akar budaya tradisional.
Dengan segala pencapaiannya, Desa Wisata Osing Banyuwangi membuktikan bahwa pembangunan tidak harus berarti meninggalkan tradisi masa lalu. Sebaliknya, tradisi itulah yang menjadi modal utama dalam melangkah menuju masa depan yang lebih sejahtera dan berkelanjutan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa keunikan utama Desa Wisata Osing Kemiren?
Keunikan utamanya terletak pada pelestarian rumah adat Tikel Balung, ritual adat Ider Bumi, dan kuliner khas Pecel Pitik yang masih diproses secara tradisional.
Bagaimana peran SDGs Desa di wilayah Kemiren?
SDGs Desa di Kemiren berfungsi sebagai kompas pembangunan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dari pariwisata berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial warga.
Kapan waktu terbaik untuk berkunjung ke sana?
Waktu terbaik adalah saat perayaan ritual adat Ider Bumi yang biasanya dilaksanakan pada hari kedua Lebaran, atau saat akhir pekan untuk menikmati suasana kopi di sore hari.
Apakah tersedia penginapan di Desa Wisata Osing?
Ya, tersedia banyak homestay yang dikelola langsung oleh warga lokal dengan fasilitas yang memadai dan suasana pedesaan yang kental.
Ditulis oleh: Sri Wahyuni









Tinggalkan Balasan