Media Kampung – Kabupaten Banyuwangi kini secara resmi memantapkan posisinya sebagai salah satu episentrum pariwisata nasional yang paling diminati di Indonesia dengan julukan prestisius “The Sunrise of Java”. Melalui integrasi promosi kebudayaan dan pelestarian alam yang konsisten, daerah di ujung timur Pulau Jawa ini berhasil menarik perhatian jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara sepanjang tahun 2023 lalu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi menyatakan bahwa kebangkitan sektor pariwisata ini didorong oleh infrastruktur yang semakin mumpuni serta aksesibilitas transportasi udara dan darat yang kian terjangkau. Fokus pengembangan destinasi tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan guna menjaga ekosistem unik yang hanya bisa ditemukan di wilayah yang berbatasan langsung dengan Selat Bali ini.
1. Kawah Ijen: Pesona Blue Fire yang Mendunia
Destinasi paling ikonik yang menempati posisi puncak daftar kunjungan adalah kawah ijen yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso. Fenomena api biru atau Blue Fire yang muncul dari reaksi gas sulfur merupakan fenomena langka yang hanya ada dua di dunia, salah satunya berada di kawah gunung berapi ini.
Wisatawan disarankan memulai pendakian pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB untuk dapat menyaksikan keajaiban alam tersebut sebelum matahari terbit di ufuk timur. Selain api biru, pemandangan danau kawah berwarna hijau toska serta aktivitas tradisional para penambang belerang menjadi daya tarik sosiologis yang sangat kuat bagi para fotografer profesional.
2. Taman Nasional Baluran: Little Africa in Java
Taman Nasional Baluran menyuguhkan lanskap savana luas yang mirip dengan suasana di Afrika, menjadikannya destinasi favorit bagi pecinta satwa dan fotografi alam liar. Savana Bekol yang membentang luas menjadi habitat asli bagi kawanan banteng jawa, rusa, monyet ekor panjang, hingga burung merak yang hidup bebas di habitat aslinya.
Selain padang rumput yang eksotis, wisatawan juga dapat mengunjungi Pantai Bama yang berada di area yang sama untuk menikmati ketenangan hutan mangrove dan keanekaragaman bawah laut. Keberadaan Gunung Baluran sebagai latar belakang savana menciptakan komposisi pemandangan yang sangat dramatis dan sulit ditemukan di tempat lain di Indonesia.
3. Pantai Pulau Merah: Surga Peselancar dan Sunset
Pantai Pulau Merah terkenal dengan sebuah bukit kecil di tengah laut yang tanahnya berwarna kemerahan, yang menjadi latar belakang indah saat matahari mulai terbenam. Destinasi ini menjadi titik berkumpul utama bagi para peselancar pemula karena karakteristik ombaknya yang cukup stabil dan dasar pantai yang berpasir tanpa banyak batu karang tajam.
Fasilitas di sekitar pantai sudah sangat lengkap mulai dari deretan homestay yang nyaman hingga pusat kuliner yang menjajakan hidangan laut segar khas pesisir selatan. Pemerintah daerah setempat terus melakukan penataan kawasan agar kebersihan pasir putihnya tetap terjaga meskipun jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat secara signifikan setiap tahunnya.
4. De Djawatan Benculuk: Hutan Fantasi di Dunia Nyata
Djawatan Benculuk menawarkan suasana magis dengan keberadaan pohon-pohon trembesi raksasa yang tertutup oleh lumut hijau sehingga menciptakan atmosfer mirip hutan dalam film Lord of the Rings. Lokasi ini awalnya merupakan tempat penyimpanan kayu milik Perhutani yang kemudian bertransformasi menjadi objek wisata fotografi paling populer bagi kaum milenial.
Udara yang sejuk dan rindangnya tajuk pohon memberikan kenyamanan ekstra bagi pengunjung yang ingin melepas penat dari hiruk pikuk kebisingan kota besar. Pengelola juga menyediakan fasilitas dokar atau kereta kuda tradisional bagi pengunjung yang ingin berkeliling area hutan tanpa harus merasa lelah berjalan kaki.
5. Teluk Hijau (Green Bay): Permata Tersembunyi di Selatan
Terletak jauh di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Teluk Hijau menawarkan keasrian pantai dengan air berwarna hijau jernih yang dikelilingi oleh tebing-tebing hutan tropis yang rimbun. Akses menuju lokasi ini memerlukan perjuangan ekstra melalui jalur trekking hutan atau menyewa perahu nelayan dari Pantai Rajegwesi untuk memangkas waktu perjalanan.
Keunikan destinasi ini tidak hanya terletak pada warna airnya saja, namun juga keberadaan air terjun air tawar setinggi delapan meter yang letaknya tepat berada di pinggir pantai. Lokasi ini sangat cocok bagi wisatawan yang mencari ketenangan maksimal karena suasananya yang masih sangat sepi dan jauh dari pemukiman penduduk setempat.
6. Pantai Sukamade: Konservasi Penyu yang Eksklusif
Pantai Sukamade merupakan bagian dari zona inti Taman Nasional Meru Betiri yang berfungsi sebagai tempat peneluran alami bagi empat jenis penyu langka yang dilindungi dunia. Wisatawan memiliki kesempatan langka untuk melihat penyu hijau berukuran besar mendarat di pinggir pantai pada malam hari untuk meletakkan telur-telurnya di dalam pasir.
Selain menyaksikan proses bertelur, pengunjung juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan pelepasan tukik atau anak penyu ke laut lepas saat matahari baru saja terbit. Perjalanan menuju Sukamade dikenal sangat menantang dengan medan off-road yang melintasi sungai dan hutan, sehingga penggunaan kendaraan berpenggerak empat roda sangat direkomendasikan.
7. Bangsring Underwater: Wisata Edukasi Bahari
Bangsring Underwater adalah bukti nyata keberhasilan konservasi terumbu karang yang dikelola secara swadaya oleh komunitas nelayan lokal yang peduli akan kelestarian lingkungan laut. Pengunjung dapat melakukan aktivitas snorkeling atau diving untuk melihat keindahan taman laut buatan serta berenang bersama hiu sirip hitam di dalam keramba khusus.
Keberadaan Rumah Apung yang menjadi pusat kegiatan memberikan edukasi langsung kepada wisatawan mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut dari kerusakan akibat alat tangkap berbahaya. Destinasi ini telah mendapatkan berbagai penghargaan nasional karena mampu menyinergikan antara kegiatan ekonomi pariwisata dengan upaya pemulihan terumbu karang yang masif.
8. Pantai Boom: Landmark Ikonik di Pusat Kota
Pantai Boom merupakan pelabuhan bersejarah yang kini telah direvitalisasi menjadi kawasan wisata modern dengan fasilitas jembatan lintas (pedestrian bridge) berbentuk spiral yang sangat artistik. Lokasinya yang sangat strategis di pusat kota Banyuwangi menjadikan pantai ini sebagai tempat favorit warga lokal maupun turis untuk menikmati sore hari.
Kawasan ini sering menjadi tuan rumah berbagai acara besar berskala internasional seperti Banyuwangi Ethno Carnival yang menampilkan parade busana kolosal dengan tema budaya lokal. Dari bibir pantai, pengunjung bisa melihat dengan jelas pemandangan pegunungan di Pulau Bali yang tampak megah berdiri di seberang Selat Bali yang sibuk.
9. Savana Sadengan: Mengintip Kehidupan Liar Alas Purwo
Savana Sadengan yang berlokasi di dalam Taman Nasional Alas Purwo merupakan padang penggembalaan buatan yang sengaja dibuat untuk memudahkan pemantauan satwa liar oleh petugas. Dari menara pandang tiga lantai, wisatawan dapat melihat gerombolan banteng, rusa, dan babi hutan yang sedang merumput dengan tenang di area terbuka seluas 80 hektare ini.
Keheningan hutan Alas Purwo yang dikenal misterius justru memberikan pengalaman spiritual dan kedamaian tersendiri bagi siapa saja yang datang berkunjung ke sana. Waktu terbaik untuk mengunjungi Sadengan adalah pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB atau sore hari pukul 15.30 WIB saat satwa liar keluar untuk mencari makan.
10. Air Terjun Jagir: Kesegaran Alami di Kaki Gunung
Air Terjun Jagir menawarkan keunikan berupa tiga aliran air terjun yang jatuh berdampingan dalam satu area sehingga sering dijuluki oleh masyarakat setempat sebagai air terjun kembar. Sumber airnya berasal dari mata air pegunungan yang sangat jernih dan segar, memungkinkan pengunjung untuk mandi di kolam alami yang terbentuk di bawahnya.
Akses menuju air terjun ini relatif mudah dengan tangga yang sudah tertata rapi, sehingga sangat ramah untuk dikunjungi oleh wisatawan keluarga yang membawa anak-anak. Terletak di Desa Glagah, destinasi ini juga dikelilingi oleh perkebunan kopi dan cengkih milik warga yang menambah keasrian suasana pedesaan khas dataran tinggi Banyuwangi.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Banyuwangi?
Waktu terbaik adalah saat musim kemarau antara bulan Mei hingga September agar aktivitas luar ruangan seperti pendakian Ijen dan kunjungan ke pantai tidak terhambat oleh hujan.
Berapa biaya tiket masuk rata-rata tempat wisata di Banyuwangi?
Harga tiket masuk cukup terjangkau, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp20.000 untuk wisatawan domestik, namun tarif untuk wisatawan mancanegara biasanya lebih tinggi sesuai regulasi pemerintah.
Apakah transportasi umum tersedia untuk menuju semua lokasi wisata tersebut?
Beberapa lokasi di pusat kota bisa dijangkau transportasi umum, namun sangat disarankan untuk menyewa kendaraan pribadi atau motor karena lokasi wisata alam seperti Baluran dan Sukamade letaknya cukup terpencil.
Apakah perlu menyewa pemandu lokal saat mendaki Kawah Ijen?
Sangat disarankan bagi pemula demi keamanan, terutama untuk navigasi di malam hari dan penggunaan masker gas yang benar saat berada di area kawah yang penuh asap belerang.
Ditulis oleh: Agus Pratama









Tinggalkan Balasan