Media Kampung – 10 April 2026 | Data resmi menunjukkan ekspor mobil buatan China meningkat 73,7 persen pada Maret 2026 dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

Peningkatan ini terjadi meskipun penjualan kendaraan listrik (EV) dan hibrida plug‑in (PHEV) di pasar domestik mengalami penurunan.

Analis industri menilai bahwa faktor utama adalah permintaan kuat dari pasar luar negeri, terutama di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

Ia menambahkan, ‘Insentif fiskal dan kemudahan perizinan mempercepat proses pengiriman, sehingga produsen dapat menyesuaikan kapasitas produksi dengan cepat.’

Selain dukungan kebijakan, nilai tukar yuan yang relatif lemah meningkatkan daya saing harga mobil China di pasar internasional.

Baca juga:

Produsen besar seperti BYD, SAIC, dan Geely melaporkan peningkatan volume penjualan ke luar negeri sebesar lebih dari 30 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Data dari Kementerian Perdagangan China mengindikasikan bahwa segmen kendaraan penumpang menyumbang hampir 60 persen total ekspor pada bulan Maret.

Sementara itu, kendaraan komersial ringan dan truk kecil mencatat pertumbuhan dua digit, didorong oleh kebutuhan logistik di negara berkembang.

Pergeseran strategi pemasaran juga berperan; produsen mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk kampanye digital dan kerjasama dealer lokal.

Di Indonesia, penjualan mobil China melalui jaringan dealer resmi naik 45 persen, mencerminkan penerimaan konsumen terhadap merek‑merek yang menawarkan teknologi baterai terjangkau.

Namun, penurunan penjualan EV domestik menunjukkan tantangan internal, di mana konsumen masih menganggap infrastruktur pengisian belum memadai.

PHEV juga mengalami penurunan penjualan karena harga premium yang belum dapat bersaing dengan model konvensional yang lebih murah.

Pemerintah China menanggapi dengan mempercepat pembangunan stasiun pengisian cepat di kota‑kota tier‑2 dan tier‑3.

Langkah ini diharapkan menstabilkan permintaan domestik sekaligus mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar ekspor.

Baca juga:

Secara makro, peningkatan ekspor mobil berkontribusi pada surplus perdagangan otomotif China, yang kini mencapai US$12,4 miliar pada kuartal pertama 2026.

Surplus ini membantu menyeimbangkan defisit impor bahan baku logam ringan yang masih tinggi.

Pihak berwenang juga mencatat peningkatan investasi asing di pabrik perakitan di luar negeri, khususnya di Vietnam dan Bangladesh.

Fasilitas‑fasilitas tersebut memanfaatkan biaya tenaga kerja yang lebih rendah, sekaligus mengurangi tarif impor yang dikenakan pada produk akhir.

Eksportir menilai bahwa diversifikasi lokasi produksi menjadi strategi penting untuk mengantisipasi proteksionisme perdagangan global.

Sebagai contoh, pabrik baru SAIC di Indonesia diperkirakan akan menambah kapasitas 150.000 unit per tahun mulai akhir 2026.

Keberadaan fasilitas lokal tidak hanya mengurangi biaya logistik, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk.

Di sisi lain, persaingan dari produsen mobil Jepang dan Korea Selatan tetap ketat, terutama dalam segmen premium.

Namun, keunggulan harga dan peningkatan standar keselamatan membuat mobil China semakin menarik bagi pembeli di pasar emerging.

Baca juga:

Para pengamat memperkirakan tren pertumbuhan ekspor akan berlanjut pada kuartal berikutnya, asalkan kebijakan dukungan tetap konsisten.

Jika permintaan global tetap kuat, China dapat menargetkan pertumbuhan tahunan di atas 20 persen hingga akhir 2026.

Kesimpulannya, kombinasi kebijakan ekspor, nilai tukar, diversifikasi produksi, dan fokus pada segmen menengah menjadi kunci lonjakan ekspor mobil China pada Maret 2026.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.