Media Kampung – 01 April 2026 | Pertamax akan naik lima ribu rupiah per liter mulai tengah malam, menjadikan harga baru 17.000 rupiah per liter. Pengumuman tersebut memicu antrean panjang di banyak SPBU Bandung.

Petugas pompa melaporkan lonjakan kendaraan yang datang beberapa jam sebelum batas waktu. Pengendara berusaha mengisi penuh sebelum tarif berubah.

Kenaikan itu sejalan dengan keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar subsidi, namun menyesuaikan harga non‑subsidi dengan pasar dunia. Kebijakan ini mencermati volatilitas harga minyak global.

Di Jakarta, warga seperti Gari (33) menerima informasi lewat grup WhatsApp dan RT setempat. Ia menyatakan kepanikan yang membuatnya memutuskan mengisi penuh Pertamax.

Gari biasanya menghabiskan sekitar 500.000 rupiah untuk mengisi tangki 45 liter. Dengan tambahan 5.000 rupiah per liter, biaya penuh mendekati 800.000 rupiah.

“Jika hanya naik 1.000 atau 2.000, masih dapat diterima, tetapi 5.000 terasa sangat berat,” kata Gari. Ia menambah bahwa ia mengisi penuh karena khawatir harga terus naik.

Fahri (34), pekerja swasta di pusat kota, mendapat kabar serupa lewat Instagram. Ia mengaku berniat beralih ke transportasi umum bila kenaikan tetap tinggi.

“Saya pertimbangkan untuk naik KRL setiap hari jika pertamax naik sampai 5.000,” ujar Fahri. Ia menegaskan bahwa kenaikan tersebut mengancam mobilitas harian banyak pekerja.

Di Bandung, kondisi serupa terlihat di gerbang‑gerbang utama kota. SPBU di Jalan Braga dan Jalan Ahmad Yani mencatat antrean yang memanjang hingga tiga puluh menit.

Pengendara motor dan mobil menumpuk di area parkir sambil menunggu giliran mengisi. Beberapa stasiun menambah petugas demi mempercepat proses.

Kepala manajer SPBU Bandung Selatan melaporkan peningkatan penjualan Pertamax naik 40 persen pada malam sebelum kenaikan. Ia menambahkan bahwa sebagian pelanggan mengisi lebih dari satu liter.

Staf pompa menegaskan tidak ada penutupan selama periode tersebut; mereka hanya menyesuaikan jadwal istirahat agar tetap melayani konsumen.

Pemerintah daerah Bandung mengimbau masyarakat mengisi bahan bakar secara bertahap agar tidak terjadi kepanikan yang mengganggu kelancaran lalu lintas. Langkah tersebut diharapkan menstabilkan antrian.

Analisis pakar energi, Dr. Rudi Hartono, menyebut kenaikan lima ribu rupiah per liter masih di bawah rata‑rata kenaikan global. Ia menilai kebijakan tersebut wajar mengingat tekanan pada cadangan minyak.

Dr. Rudi menambahkan bahwa subsidi Pertalite tetap dipertahankan, sehingga beban utama jatuh pada pemilik kendaraan bermesin bensin berkapasitas lebih besar. Ini berpotensi mempengaruhi pola konsumsi BBM.

Beberapa pengusaha transportasi publik mengumumkan penyesuaian tarif setelah kenaikan, namun berjanji tidak menaikkan lebih dari dua persen untuk melindungi penumpang. Kebijakan ini bertujuan menghindari beban tambahan.

Konsumen yang mengisi pada malam hari melaporkan bahwa pompa tetap beroperasi normal. Mereka menyarankan warga menunggu hingga pagi untuk menghindari antrean panjang.

Media sosial menampilkan foto‑foto antrean panjang di SPBU Bandung, menimbulkan perbincangan tentang kebijakan harga. Pemerintah menanggapi dengan menegaskan transparansi proses penetapan harga.

Beberapa lembaga konsumen mengingatkan bahwa kenaikan harga harus diimbangi upaya efisiensi energi. Mereka mengajak publik mengurangi penggunaan bahan bakar yang tidak penting.

Dengan harga Pertamax baru 17.000 rupiah per liter, banyak pengendara mengatur ulang anggaran transportasi mereka. Kondisi ini diperkirakan memengaruhi pola belanja bahan bakar selama beberapa bulan ke depan.

Pemerintah tetap memantau pasar bahan bakar dan berjanji meninjau kebijakan bila harga dunia kembali stabil. Sementara itu, masyarakat diharapkan tetap tenang dan mengisi bahan bakar secara bertanggung jawab.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.