Media Kampung – 07 April 2026 | Christos Tzolis, penyerang asal Yunani yang pernah mengalami masa sulit di Eredivisie, kini menjadi andalan Club Brugge dan dinilai lebih dari 30 juta euro.
Ia memulai karier di Doxa Pentalofos, sebuah klub kecil di pinggiran Thessaloniki, dan menjadi pemain termuda yang pernah tampil untuk tim tersebut.
Usia enam belas tahun, Tzolis masuk akademi PAOK setelah menyeberang antara dua klub pada hari yang sama, bahkan harus berganti seragam di dalam mobil.
Di PAOK, ia mencetak 100 gol dalam 48 pertandingan tim junior dan mengukir kenangan melawan Barcelona dalam turnamen persahabatan yang berujung kemenangan 2‑1.
Krisis keuangan di Yunani memaksa keluarganya pindah ke Jerman, di mana ia bermain untuk klub-klub junior seperti SV Alemannia dan SC Rosenhöhe.
Setelah kembali ke PAOK pada 2018, Tzolis langsung mencetak hat‑trick dalam pertandingan pemuda pertamanya, menegaskan bahwa ia tak kehilangan sentuhan.
Debut seniornya datang melawan Olympiacos, dan pada laga berikutnya ia mencetak gol pertamanya serta memberikan dua gol dan satu assist dalam kualifikasi Liga Champions melawan Besiktas.
Pindah ke Norwich City pada 2021 dengan biaya 11 juta euro, ia hanya mencatat kurang dari 800 menit bermain dan tidak dapat menghindarkan klub dari degradasi.
Musim berikutnya, ia dipinjamkan ke FC Twente, namun cedera lutut dan kesulitan masuk ke XI utama membuat pelatih Ron Jans memutuskan pemutusan kontrak lebih awal.
Loan kedua ke Fortuna Düsseldorf menghasilkan 22 gol dan 7 assist, menjadikannya pencetak gol terbanyak bersama pemain lain di 2. Bundesliga, meski klub gagal promosi.
Club Brugge mengontrak Tzolis dengan biaya 6,5 juta euro, dan pada tahun 2025 ia mencetak 25 gol serta memberikan 23 assist, menempatkannya di antara pemain top dunia seperti Mbappé dan Haaland.
Manajer Nicky Hayen menilai Tzolis sebagai pemain yang konsisten, mental kuat, dan cocok dengan budaya tim, sehingga klub menolak tawaran lebih dari 30 juta euro.
Keluarga Tzolis masih menyimpan kamar dengan logo PAOK di dinding, dan ia dijuluki “Tzatziki” oleh rekan-rekan Belgia karena kebiasaannya menolak makanan khas tersebut.
Sebelum setiap laga, ia membuat tanda salib dengan jari, menegaskan keyakinannya pada nilai spiritual dalam mendukung performa.
Dalam empat pertandingan liga terakhir, ia mencetak tiga gol dan dua assist, serta menambah satu gol di Liga Champions melawan Atlético Madrid, mengakhiri fase penurunan performa.
Dengan statistik yang kembali menguat, Tzolis diprediksi akan tetap menjadi incaran klub besar, namun Club Brugge bertekad mempertahankannya untuk memperkuat ambisi domestik dan Eropa.
Kisah Tzolis mencerminkan kebangkitan seorang pemain yang pernah dianggap terbuang, kini menjadi aset berharga di panggung sepak bola internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan