Media Kampung – 05 April 2026 | Rayan Cherki harus melepas jersey Liverpool yang dipakainya di bangku cadangan Manchester City pada menit akhir babak kedua FA Cup melawan Liverpool. Kejadian itu terjadi setelah ia menukar kaos dengan rekan satu tim nasional, Hugo Ekitike.

Setelah kedua pemain digantikan, keduanya menukar jersey selama kurang lebih dua puluh menit sebelum peluit akhir. Cherki kemudian mengenakan jersey merah Liverpool sambil duduk di antara rekan-rekannya, lalu segera dihentikan oleh seorang staf tim.

Seorang staf City memberi isyarat agar Cherki segera menanggalkan jersey tersebut, dan pemain berusia 22 tahun itu mengangkat tangan sebagai tanda permintaan maaf. Kamera menyorot reaksi cepatnya ketika menyadari kesalahan.

Darren Fletcher, komentator TNT Sports, menilai insiden itu akan menimbulkan reaksi keras di kalangan pendukung City. “Itu akan terasa seperti balon berisi timah di banyak pihak,” ujarnya saat siaran.

Former Arsenal centre‑back Philippe Senderos menanggapi dengan nada lebih ringan, menyebut Cherki sebagai pemain yang tidak memiliki filter dan suka mengungkapkan apa adanya. Ia menilai tindakan itu “menyegarkan” meski kontroversial.

Pertandingan berakhir dengan kemenangan telak City 4‑0, Erling Haaland mencetak hat‑trick dan Antoine Semenyo menambah satu gol lewat assist Cherki. Mohamed Salah gagal memanfaatkan penalti, yang diselamatkan James Trafford.

Menukar jersey sebelum peluit akhir biasanya dianggap kurang menghormati lawan dan pendukung, karena menampilkan simbol rival di tengah pertandingan yang masih berlangsung. Praktik ini sering kali dikecam karena menimbulkan kebingungan visual bagi penonton.

Insiden ini menambah daftar tindakan eksentrik Cherki, termasuk aksi kick‑up yang ia lakukan pada final Carabao Cup melawan Arsenal. Sejumlah media mencatat bahwa pemain muda ini sering kali mengekspresikan kegembiraan secara spontan.

Pengguna media sosial segera menanggapi video tersebut dengan beragam komentar. Beberapa menyebutnya sebagai tindakan tidak sensitif, sementara yang lain memuji keberanian Cherki mengekspresikan diri.

Hingga saat ini, klub belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait sanksi atau tindakan disiplin terhadap pemain. Namun, laporan menyatakan bahwa manajemen menilai kejadian tersebut sebagai pelanggaran protokol kebersamaan tim.

Meski insiden menodai penampilannya, Cherki tetap dipandang sebagai talenta penting bagi City. Kemampuannya menciptakan peluang dan berkontribusi dalam serangan membuatnya tetap menjadi pilihan utama pelatih.

Kasus ini menimbulkan perdebatan mengenai batas kebebasan pemain dalam mengekspresikan diri di lapangan. Beberapa analis mengusulkan penegakan aturan lebih ketat untuk menghindari kebingungan visual di stadion.

Manchester City akan melanjutkan kampanye FA Cup melawan lawan berikutnya pada pekan depan, dengan fokus menambah kemenangan tanpa insiden serupa. Tim diharapkan menjaga konsentrasi dan profesionalisme dalam setiap pertandingan.

Dengan langkah cepat mengatasi kesalahan, Cherki menunjukkan kesadaran akan pentingnya citra klub, meski tindakan awalnya menimbulkan kontroversi. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi pemain muda tentang batasan ekspresi dalam kompetisi profesional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.