Media Kampung – 02 April 2026 | Maarten Paes, kiper timnas Indonesia, tetap dapat bermain untuk Ajax Amsterdam meski skandal paspor melanda Eredivisie.
Sanksi administratif yang menimpa beberapa naturalisasi Indonesia, seperti Justin Hubner, Nathan Tjoe‑A‑On, dan Dean James, tidak memengaruhi Paes.
Penelamatan Paes berasal dari prosedur pendaftaran yang teliti oleh manajemen Ajax sejak kedatangan pemain pada Februari 2026.
Klub mencatat Paes sebagai pemain non‑Uni Eropa dan mengajukan izin kerja khusus sesuai regulasi KNKN.
Karena status tersebut, Ajax wajib memenuhi standar gaji minimum 608 000 euro atau sekitar Rp 11,7 miliar per tahun.
Dengan keuangan yang kuat, Ajax dengan mudah mematuhi persyaratan tersebut tanpa mengorbankan anggaran.
Klub lain di Eredivisie, termasuk Go Ahead Eagles dan Fortuna Sittard, mengalami kesulitan memenuhi ketentuan serupa.
Kegagalan mereka mengakibatkan pembekuan izin bermain pemain naturalisasi sampai dokumen lengkap.
De Telegraaf mengungkapkan bahwa Ajax melibatkan konsultan hukum untuk memastikan semua dokumen Paes sah.
“Kami memastikan setiap langkah administratif dipenuhi sebelum pemain menjejak lapangan,” ujar perwakilan legal Ajax secara anonim.
Proses tersebut meliputi verifikasi paspor, pengajuan work permit, dan konfirmasi status kewarganegaraan ganda.
Indonesia tidak mengakui kewarganegaraan ganda, sehingga Paes kehilangan kewarganegaraan Belanda setelah memilih Garuda.
Oleh karena itu, Paes harus diperlakukan sebagai pemain non‑EU dan tunduk pada peraturan ketat liga Belanda.
Ajax menunda debut Paes hingga semua izin kerja diterbitkan, menjaga klub dari potensi sanksi finansial.
Keputusan itu terbukti tepat ketika KNVB melakukan audit menyeluruh terhadap pemain naturalisasi bulan ini.
Audit tersebut menyoroti kasus Dean James yang belum menyelesaikan perubahan status, memicu pembekuan sementara.
Selain Paes, pemain lain seperti Nathan Tjoe‑A‑On dan Justin Hubner masih menunggu klarifikasi dokumen.
KNVB menyatakan bahwa pelanggaran izin kerja dapat berujung pada denda berat atau diskualifikasi tim.
Dengan menepati regulasi, Ajax menghindari konsekuensi tersebut dan tetap fokus pada kompetisi liga.
Paes kembali berlatih bersama skuad utama dan dipersiapkan untuk mengisi posisi penjaga gawang cadangan.
Pelatih john herdman menilai Paes sebagai pilihan andalan bila starter mengalami cedera.
“Kami menghargai profesionalisme Paes dalam menyiapkan dokumen dan tetap fokus pada performa,” kata Herdman.
Sementara itu, federasi sepak bola Indonesia menyambut baik kebebasan Paes untuk bermain di Eropa.
“Keberadaan Paes di level tertinggi membantu meningkatkan kualitas timnas,” ujar perwakilan PSSI.
Skandal paspor ini menimbulkan perdebatan mengenai naturalisasi pemain dan implikasi hukum di Liga Belanda.
Beberapa kritikus menilai regulasi terlalu memberatkan klub kecil yang tidak mampu membayar gaji minimum tinggi.
Namun, pihak KNVB menegaskan kebijakan tersebut bertujuan melindungi pasar kerja dan integritas kompetisi.
Ajax, sebagai klub dengan sumber daya kuat, dapat memanfaatkan kebijakan itu untuk memperkuat skuad.
Kejadian ini juga menyoroti pentingnya koordinasi antara klub, federasi, dan otoritas imigrasi.
Para pemain naturalisasi kini lebih berhati-hati dalam mengurus dokumen sebelum berkompetisi.
Paes sendiri menyatakan rasa lega setelah proses administratif selesai dan bertekad memberikan kontribusi maksimal.
“Saya fokus pada latihan dan pertandingan, bukan pada masalah birokrasi,” ungkapnya dalam wawancara singkat.
Kedepannya, Ajax diperkirakan akan terus meninjau status pemain asing untuk menghindari pelanggaran serupa.
Kasus ini menjadi pelajaran bagi klub Eredivisie lain dalam mengelola naturalisasi pemain.
Dengan Paes tetap aman, Garuda dapat mengandalkan penjaga gawang berpengalaman dalam laga internasional mendatang.
Situasi ini mengukuhkan Ajax sebagai contoh klub yang mampu menavigasi regulasi kompleks sambil menjaga performa kompetitif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan