Media Kampung – 01 April 2026 | Pesilat putri asal Kudus, Jawa Tengah, Safira Dwi Meilani akan berkompetisi pada Belgium Open 2026 yang diselenggarakan 24‑26 April di Belgia.
Ia menargetkan medali emas pada kelas B (50‑55 kg) dan menyatakan kesiapan mental serta fisik untuk menghadapi ajang internasional.
Persiapan Safira kini terpusat di GOR Jatidiri, Semarang, dengan jadwal pemanggilan timnas pertama diperkirakan antara 6‑9 April.
Setelah pemanggilan, ia akan berlatih di dua kota pilihan, yaitu Jakarta atau Solo, untuk menyempurnakan taktik pra‑kompetisi.
Latihan harian mencakup program fisik, teknik, serta penyesuaian dengan peraturan baru pencak silat, termasuk larangan menarik tubuh lawan.
Pelatih menegaskan bahwa penurunan berat badan dan peningkatan strategi menjadi fokus utama menjelang turnamen.
Safira juga mengasah kemampuan pukulan dan tendangan secara intensif, sambil mempelajari pola serangan lawan potensial.
Ia menyebut Vietnam dan Malaysia sebagai lawan berat, meski belum ada konfirmasi resmi tentang partisipasi atlet dari negara‑negara tersebut.
Turnamen akan menggunakan sistem gugur, sehingga setiap pertandingan bersifat krusial dan tidak ada kesempatan kedua.
Jumlah peserta belum pasti, namun terbuka untuk perwakilan negara, paguyuban pencak silat, maupun universitas.
Safira menegaskan tekadnya untuk meraih emas tidak sekadar slogan; pencapaian serupa telah diraihnya di kejuaraan bergengsi sebelumnya.
Prestasinya meliputi juara South East Asian Championship 2022 di Singapura, World Pencak Silat Championship 2022 di Malaysia, SEA Games 2023 di Kamboja, serta World Pencak Silat Championship 2024 di Abu Dhabi.
Ia juga memegang gelar juara PON XXI Aceh‑Sumut 2024, menambah catatan keberhasilan di tingkat nasional.
Safira menambahkan bahwa persiapan pra‑kompetisi kini lebih menekankan pada pengendalian berat badan dan strategi melawan gaya bertarung yang beragam.
Ia mengakui pentingnya memahami aturan baru, khususnya larangan penarikan badan, untuk menghindari penalti pada kompetisi internasional.
Tim pelatih menilai bahwa latihan di Jakarta atau Solo akan memberi akses ke fasilitas unggulan dan sparring partner berlevel tinggi.
Selain itu, dukungan logistik dari PON dan Persatuan Pencak Silat Indonesia diharapkan mempermudah proses adaptasi di Eropa.
Safira berharap pengalaman di Belgia dapat menambah wawasan taktik serta meningkatkan eksposur pencak silat Indonesia di kancah global.
Jika berhasil meraih emas, pencapaian tersebut akan menjadi bukti konsistensi atlet muda Indonesia dalam mempertahankan dominasi di ajang regional maupun dunia.
Safira menutup pernyataannya dengan optimisme tinggi, menyatakan kesiapan mental, fisik, dan teknis untuk menghadapi tantangan di Belgium Open.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan