Media Kampung – 30 Maret 2026 | Korea Selatan akan menerapkan langkah penghematan energi seiring konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan minyak global.

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan tajam harga minyak mentah, memaksa ekonomi Asia meninjau kembali pola konsumsi.

Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Seoul mengumumkan pemotongan sementara alokasi bahan bakar untuk armada pemerintah sebesar 30 persen, meniru kebijakan serupa di Mesir.

Pemerintah juga berencana menunda proyek infrastruktur non‑esensial yang bergantung pada generator diesel setidaknya dua bulan.

Instansi publik akan mengalihkan pekerjaan administratif ke mode kerja dari rumah setiap hari Minggu selama April, kecuali manufaktur penting dan layanan darurat.

Gerai ritel diminta menutup operasional pada pukul 21.00 waktu setempat untuk mengurangi beban listrik pada jam puncak.

Program penghematan energi diperkirakan dapat menurunkan konsumsi bahan bakar nasional sebesar 5‑7 persen dalam tiga bulan ke depan.

Analis memperkirakan pengurangan ini dapat menghemat anggaran negara hingga 1,2 triliun won dari subsidi bahan bakar.

Langkah tersebut mengikuti jejak Mesir yang mengurangi ransum bahan bakar dan membatasi jam operasional toko setelah penutupan Selat Hormuz.

Pengalaman Mesir menunjukkan bahwa pembatasan penggunaan bahan bakar dapat meredakan tekanan keuangan publik di tengah biaya impor yang melambung.

Pejabat Korea Selatan menyebut kasus Mesir sebagai acuan cepat dalam penerapan kebijakan pada krisis energi.

Kelompok lingkungan memperingatkan bahwa perang tersebut telah menambahkan lima juta ton CO2 ke atmosfer dalam dua minggu pertama, memperburuk target iklim global.

Studi tersebut menyoroti konsumsi bahan bakar jet militer yang sangat tinggi serta emisi besar yang dihasilkan.

Dengan mengurangi penggunaan bahan bakar domestik, Seoul berharap dapat menetralkan sebagian emisi tambahan dan menegaskan komitmen pada target net‑zero 2050.

Pemerintah juga akan meredupkan lampu jalan non‑esensial dan menunda pemasangan papan iklan baru secara sementara.

Fasilitas pariwisata, termasuk hotel dan objek wisata, dikecualikan untuk menjaga sektor yang menyumbang signifikan pada PDB.

Bisnis domestik memberikan respons beragam; beberapa perusahaan logistik khawatir akan keterlambatan pengiriman, sementara yang lain menyambut biaya bahan bakar yang lebih rendah.

Kementerian menegaskan bahwa rantai pasokan penting akan tetap mendapat prioritas alokasi bahan bakar untuk menghindari gangguan.

Para pakar keamanan regional mencatat bahwa guncangan energi dapat memicu ketegangan sosial di negara tetangga, seperti Indonesia, di mana narasi radikal sedang berkembang.

Pengamat Indonesia memperingatkan bahwa propaganda konflik dapat memperparah radikalisme, menambah lapisan ketidakstabilan di kawasan.

Kebijakan Seoul bertujuan tidak hanya memberi kelegaan ekonomi, tetapi juga memperkuat stabilitas regional dengan mencegah kerusuhan terkait energi.

Pemerintah akan meninjau kembali langkah-langkah ini setelah konflik mereda, dengan tujuan mengembalikan operasi normal.

Sementara itu, rumah tangga dianjurkan mengurangi penggunaan listrik yang tidak penting dan mempertimbangkan alternatif transportasi.

Inisiatif penghematan energi menegaskan betapa eratnya hubungan geopolitik global dan kebijakan domestik dalam menghadapi guncangan pasokan mendadak.

Korea Selatan tetap waspada, menyeimbangkan keamanan energi, ketelitian fiskal, dan komitmen iklim seiring perkembangan konflik di Timur Tengah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.